"Indonesia terlalu banyak libur. Saya mengaku salah," tulisnya di halaman
Facebook.
Mengapa Rizal mengatakan dirinya ikut bersalah karena jumlah hari libur yang begitu banyak?
Ceritanya begini.
Gagasan memperbanyak hari libur nasional muncul dalam pembicaraan di sela makan siang antara Rizal Ramli dengan seorang pejabat tinggi sekitar sepuluh tahun lalu.
Kepada teman makan siangnya, RR mengatakan dirinya baru selesai membaca buku mantan PM Republik Rakyat China Zhu Rong Ji tentang strategi menggenjot pertumbuhan perekonomian negara itu menjadi
double digit.
"Dia (pejabat tinggi) tertarik ingin baca bukunya," tulis Rizal Ramli.
"Saya bilang, kalau baca buku bagus, saya biasa menggarisbawahi. Pada
chapter 5 yang diulas tentang
holiday economics, mengungkapkan bahwa liburan harus diperbanyak, supaya konsumsi lebih tinggi," sambungnya.
Seminggu kemudian, lanjut RR, pejabat tersebut menggelar rapat dengan para menteri untuk berkoordinasi membahas kebijakan memperbanyak liburan, termasuk di hari "terjepit".
Belakangan Rizal Ramli baru sadar, bahwa dia lupa mengatakan kepada temannya itu untuk mempelajari bab-bab lain dari buku Zhu Rong Ji sebelum bab yang menceritakan soal jumlah hari libur.
"Sayang, bab-bab sebelumnya yang menopang kebijakan
holiday economics itu tidak dijalankan. Seperti, menggenjot pertumbuhan, pendapatan, produktifitas, infrastruktur dan sebagainya," masih tulis RR.
"Jadi, ekonomi masih di bawah 6 persen. Pendapatan dan produktifitas masih rendah, tapi liburan sudah terlalu banyak," Rizal Ramli menutup cerita dengan nada bersalah.
[rus]