Dampaknya pun tak main-main; pengguna mengeluhkan kesulitan memperbarui beranda, gagal mengunggah konten, terhambatnya pengiriman pesan, hingga banyak akun yang mendadak keluar (logout) dengan sendirinya.
Gangguan berskala masif ini pertama kali terdeteksi sekitar pukul 21.25 WIB, menyapu kawasan Eropa dan Amerika Utara sebelum akhirnya merambat cepat ke Asia—termasuk Indonesia—serta Australia dan Timur Tengah.
Setelah memicu gelombang kepanikan dengan lebih dari 850.000 laporan keluhan, layanan Meta baru mulai pulih secara bertahap pada pukul 23.15 WIB.
Lantas, Apa yang Sebenarnya Terjadi?Di tengah simpang siur spekulasi, pihak Meta secara resmi mengklarifikasi bahwa insiden tersebut sepenuhnya berakar dari kesalahan teknis di sistem operasional mereka.
Kekacauan ini bermula saat tim teknis Meta tengah melakukan pembaruan rutin yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja sistem.
Namun dalam praktiknya, terjadi kesalahan fatal pada konfigurasi jaringan internal.
Kesalahan pengaturan pada server pengarah data ini secara tak sengaja memutus "urat nadi" komunikasi antar pusat data global Meta, termasuk yang berada di Amerika Serikat, Eropa, dan Singapura.
Terputusnya koneksi ini membuat permintaan akses dari gawai pengguna tidak dapat diproses oleh sistem.
Untuk meredakan kekhawatiran publik, perusahaan teknologi raksasa tersebut juga menegaskan beberapa fakta krusial.
Bukan Serangan Siber: Tumbangnya layanan dipastikan murni akibat malfungsi internal, bukan karena adanya retasan atau serangan hacker dari pihak luar.
Data Pengguna Tetap Aman: Tidak ditemukan satu pun indikasi kebocoran atau akses ilegal terhadap informasi pribadi pengguna selama pemadaman berlangsung.
Bukan Salah Internet Pengguna: Gangguan berasal dari hulu infrastruktur Meta.
Oleh karena itu, pengguna tetap mengalami kendala yang sama terlepas dari apa pun jenis provider atau jaringan internet yang mereka gunakan.
BERITA TERKAIT: