Teaterikal dimaksudkan untuk mengecam aksi kekerasan terhadap etnis Rohingya di Myanmar.
Pantauan di lokasi, dua aktivis masing-masing ACT dan MRI berperan sebagai tentara militer Myanmar. Sambil memegang senjata, keduanya memperagakan aksi mendorong dan memukul warga Rohingya yang diperankan oleh empat aktivis lainnya.
Koordinator MRI, Diki Irawan dalam orasinya, mendorong pemerintah Indonesia agar proaktif menghentikan kekerasan di Myanmar.
"Pemerintah harus menegur keras Dubes Myanmar. Indonesia harus memainkan peranannya sebagai negara terbesar di ASEAN," lantang Diki.
Ia juga sempat menyinggung peran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan organisasi kemanusiaan lainnya dalam membantu korban kekerasan di Myanmar.
"Ini bukan soal agama, bukan ras tapi soal kemanusiaan. Ke mana PBB? Kemana organisasi kemanusian? Kemana aktivis HAM?," ucapnya lagi.
Lewat aksi teatrikal ini, jelas Diki kepada
Kantor Berita Politik RMOL, ACT dan MRI ingin memberikan informasi sekaligus mengajak masyarakat untuk peduli isu Rohingya.
Dalam kesempatan tersebut, ACT dan MRI juga menggalang dana untuk korban Rohingya.
"
Insya Allah kami berupaya untuk hadir di sana (Myanmar) berikan bantuan," pungkasnya.
[wid]
BERITA TERKAIT: