Berdasarkan survei Majelis Pengurus Pusat (MPP) Asosiasi Dosen Indonesia (ADI), Nanat mengantongi elektabilitas 16,8 persen, tepat di bawah Deddy Mizwar dan Ridwan Kamil.
Survei MPP ADI ini dilaksanakan mulai 10 Juli sampai 14 Agustus 2017. Survei dilakukan secara online terhadap 1.614 responden yang tersebar di 27 kabupaten/kota di Jabar.
"Proses pemilihan responden melalui online dengan teknik mengambil nomer WA (Whatsapp) seorang. Responden diambil secara random dari bermacam-macam latar belakang pekerjaan seperti PNS, wiraswasta, politisi, tokoh agama, pelajar/mahasiswa, guru/dosen, seniman dan olahragawan, petani, nelayan, karyawan, dan pedagang," jelas Ketua Tim Peneliti MPP ADI, Andi Faisal Bakti, dalam rilis hasil survei di Pulogadung, Jakarta Timur, Selasa (15/8).
Dalam survei itu, ada 14 nama yang diteliti tingkat popularitas dan elektabilitasnya di masyarakat Jabar. "Nama-nama itu diambil dari yang beredar di media masa dan obrolan di masyarakat yang digadang-gadang sebagai cagub," tambah Andi.
Nama-nama itu adalah Deddy Mizwar, Ridwan Kamil, Dedi Mulyadi, Dede Yusuf, Dessy Ratnasari, Netty Prasetiyani Heryawan, Iwa Karniwa, Nanat Fatah Natsir, Iwan Sulandjana, Uu Ruzhanul Ulum, Agung Suryamal, Puti Guntur Soekarno, Sutrisno, dan Mulyadi.
Untuk popularitas, Deddy Mizwar penempati urutan teratas (54,8 persen). Dia diikuti Ridwan Kamil, Dedi Mulyani, dan Dede Yusuf dengan popularitas secara berturut-turut 47,8 persen, 42,6 persen, dan 40,8 persen. Tingkat popularitas Nanat sendiri berada di urutan delapan dengan angka 25,7 persen.
Meski begitu, dari sisi elektabilitas, Nanat cukup menjanjikan dengan mengantongi 16,8 persen. Elektabilitas Nanat ini hanya berada di bawah Deddy Mizwar (22 persen) dan Ridwan Kamil (17 persen). Nanat berhasil duduk di atas Iwa Karniwa (11,8 persen) dan Dedi Mulyadi (11,1 persen).
Andi Faisal menjelaskan, survei itu dilakukan MPP ADI sebagai bentuk kepedulian pengembangan demokrasi di Indonesia.
"Hasil Survei secara online ini tidak bermaksud mengambil kesimpulan secara menyeluruh dan final tentang sikap masyarakat Jawa Barat tentang bakal calon gubernur periode 2018-2023," katanya.
"Survei ini hanya mendeskripsikan sikap sementara 1.614 responden terhadap bakal cagub, karena itu survey ini lebih bersifat grounded research langsung dari lapangan," tandas Guru Besar Komunikasi Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.
[zul]
BERITA TERKAIT: