Jokowi & AHY Duet, Bisakah?

SBY Sudah Pakai Jas Merah

Jumat, 11 Agustus 2017, 10:45 WIB
Jokowi & AHY Duet, Bisakah?
Presiden Jokowi dan Agus Harimurti Yudhoyono/Net
rmol news logo Seharian kemarin, Agus Harimurti Yudhoyono tampak sibuk. Siang hari, putra sulung SBY itu menyambangi Istana untuk menemui Presiden Jokowi. Malamnya, Agus meluncurkan lembaga The Yudhoyono Institute di Djakarta Theather. Di acara ini Agus dan SBY sudah memakai jas merah. Mungkinkah ini tanda-tanda AHY, sapaan akrab Agus, merapat dan berduet dengan Jokowi di Pilpres 2019?

Acara peluncuran The Yudhoyono Institute yang dimulai pukul 19.30 ini digelar meriah. Jakarta Theather yang mampu memuat seribuan orang ini tampak penuh sesak. Kompak mengenakan jas merah marun, SBY dan keluarga sudah berada di lokasi acara sejak sejam sebelumnya. Satu persatu tamu undangan yang datang disalami oleh presiden RI ke-6 ini dengan hangat.

Tamu yang datang antara lain, eks wapres Boediono, gubernur Jakarta terpilih Anies Baswedan dan wakilnya, Sandiaga Uno, Rachmawati dan Sukmawati Soekarnoputri, Yenny Wahid, sampai sejumlah menteri dikabinet SBY seperti Djoko Suyanto, Hatta Rajasa, Mari Elka Pangestu.

Acara dimulai dengan pidato tunggal AHY. Agus mengawalinya dengan guyonan cerdas. Setelah mengucapkan terima kasih kepada tokoh yang hadir. Agus bercerita tentang pengalamannya sebagai tentara. Dia bercerita, di hari yang sama, tahun lalu, saat itu dia sedang bertugas di kamp Kemuning Tangerang.

Tiba-tiba, ada kelompok tentara berkelahi. Agus selaku pimpinan geram, ingin melerai. Ternyata, kericuhan itu adalah drama agar Agus mendekat.

"Surprise, selamat ulang tahun komandan, ternyata istri saya produsernya. Itulah sepenggal kisah manis saya sebagai tentara," ujar Agus yang membuat banyak orang tertawa lantaran terlalu serius menyimak.

Kemarin tepat 10 Agustus, hari Agus berulang tahun. Anak sulung SBY ini mengamini saat ini dia bukan lagi perwira. Tapi, dia juga bersyukur atas transformasi yang terjadi terhadap dirinya.

Dia bercerita, sempat ada seseorang bertanya jika ingin menjadi patriot sudah tepat jika Agus mengabdi sebagai tentara, angkat senjata. Baginya, itu tidak salah. Tapi, bagaimana jika patriotisme itu disematkan kepada anak muda? Tanya Agus.

Dijelaskannya, ketika berkeliling Nusantara, Agus bercerita Indonesia punyak banyak potensi. Terutama anak mudanya. Dia yakin, terjadi Indonesia emas jika semuanya bersatu, terutama pemudanya yang memiliki jiwa patriotisme.

"Para pemuda, mereka patriot. Diplomat juga patriot, olahragawan, dan lainnya, mereka adalah patriot. Demi menyambut Indonesia emas 2045," tegasnya.

Apa yang akan diperbuat Agus bersama Yudhoyono Institute? Rencananya akan ada dua inisiatif sebagai langkah awal. Pertama, mendirikan School Leadership and Music, kemudian, juga menerterbitkan Majalah Strategis. "Di majalah ini saya sebagai editor dan chief," terangnya.

Agus mengatakan, The Yudhoyono Institute adalah lembaga think tank independen, nonpolitik praktis, dan fokus pada isu-isu strategis di lingkup nasional, regional maupun global. Semua itu, kata AHY, berpijak pada tiga pilar yakni liberty (kebebasan), prosperity (kesejahteraan), dan Security (keamanan).

"Berdirinya The Yudhoyono Institute ini nantinya diharapkan dapat melahirkan generasi masa depan, calon pemimpin bangsa yang berjiwa patriotik, berakhlak baik, dan unggul, yang dapat membawa Indonesia menjadi bangsa yang maju dan niscaya dapat menjadi bangsa yang memimpin di dunia internasional di masa mendatang," kata AHY.

Siangnya, Agus lebih dulu bertemu Presiden Jokowi. Agus tiba di Istana sekitar pukul 11.30 siang dengan pengawalan tiga stafnya. Agus tampil necis dengan batik hitam bercorak cokelat-putih dengan bawahan hitam. Jalannya tegap, rambutnya tersisir rapi. Ada apa? Agus bilang, kedatangannya untuk menyampaikan undangan kepada Presiden dalam acara peluncuran Yudhoyono Institute.

Tak ada perlakuan khusus dari pihak Istana untuk menyambut Agus. Seperti tamu lainnya, Agus yang masuk lewat pintu gesung Sekretariat Negara mesti melewati pintu detektor logam. Juga mesti menunggu beberapa menit di ruang tunggu sebelum sebuah mobil golf menjemputnya untuk mengantar bertemu Jokowi di Istana Merdeka. Pertemuan keduanya digelar tertutup.

Rupanya, Agus tak hanya menemui Jokowi. Ia juga dijamu makan siang oleh anak sulung Jokowi, Gibran Rakabuming Bumi di presidential lounge yang berada persis di sisi barat Istana Negara. Menunya bubur lemu dengan gudeg. Ketiganya menghabiskan waktu sekitar satu jam berbincang di jamuan tersebut.

Terpisah, pengamat politik dari Sigma, Said Salahuddin menyampaikan, munculnya SBY dengan jaket merah sebagai identitas TYI terlalu dini jika dinyatakan mengarah kepada PDIP dan Jokowi di Pilpres 2019. Warna ini, hanya pembeda dengan Partai Demokrat saja.

"Yang jelas, AHY punya peluang untuk mendampingi Jokowi di Pilpres 2019 nanti," ujar Said kepada Rakyat Merdeka.

Said menjelaskan, saat ini SBY memiliki banyak langkah politik menuju 2019. Saa ini baru ada dua kubu, Jokowi dan Prabowo. SBY ada ditengah. Buktinya, di Pilpres lalu dan Pilgub DKI, SBY netral.

"Nah kalau Presidential Threshold nol persen, AHY justru jadi capres. Jika tetap, bisa jadi wakil Jokowi atau ke Prabowo. Tergantung politiknya bagaimana. SBY ini baik di dua kubu," pungkasnya.

Sementara, Chief Communicator Officer The Yudhoyono Institute, Ni Luh Putu Caosa Indryani menjelaskan tak ada alasan khusus kenapa SBY dan keluarga kompak memakai jas merah. Warna ini, pilihan Agus dan disepakati seluruh kader TYI.

"Ngga ada alasan khusus, biar netral aja. Memisahkan dengan politik, karena kami non politik praktis. Warna ini juga idenya Mas Agus," kata Caosa kepada Rakyat Merdeka, semalam. ***

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA