Pada penutupan perdagangan Selasa 16 Juni 2026 waktu setempat, Indeks Dolar AS (DXY) melemah 0,14 persen ke posisi 99,55. Namun, meski melemah, koreksi Dolar AS cenderung terbatas. Mata uang ini tetap bertahan di dekat kisaran tertinggi terbarunya terhadap Euro dan Yen.
Tertahannya posisi dolar ini disebabkan oleh dua faktor Utama yaitu ekspektasi harga energi dan sikap hawkish Fed.
Pasar memperkirakan harga energi akan tetap tinggi dalam beberapa bulan ke depan serta adanya kekhawatiran bahwa Chairman The Fed yang baru, Kevin Warsh, akan mengambil sikap yang lebih agresif (hawkish) dalam pengumuman kebijakan moneter.
Analis menilai ketidakpastian seputar arah kebijakan Kevin Warsh berhasil menahan aksi jual Dolar yang lebih dalam.
Saat ini, pasar memproyeksikan The Fed akan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50–3,75 persen, namun berpotensi menghapus sinyal pelonggaran kebijakan karena inflasi AS yang masih di atas target 2 persen.
Euro menguat 0,16 persen terhadap Dolar menjadi 1,1609 Dolar AS.
Yen Jepang menguat tipis 0,06 persen ke level 160,43 per Dolar AS, setelah Bank of Japan (BOJ) menaikkan suku bunga acuannya menjadi 1 persen.
Dolar Australia tetap stabil di posisi 0,707 Dolar AS setelah bank sentral Australia (RBA) mempertahankan suku bunga di level 4,35 persen.
BERITA TERKAIT: