"Meski berbagai usaha pencitraan untuk menaikkan popularitas dan elektabilitas Bahlil terus menerus gencar dilakukan selama beberapa bulan terakhir," kata analis politik Saiful Huda Ems kepada
RMOL, Rabu 10 Juni 2026.
Menurut Saiful, meskipun populer, namun tidak berarti Bahlil disukai dan akan dipilih oleh rakyat. Popularitas itu kan tidak selalu berbanding linier dengan elektabiltas seseorang.
"Apalagi Bahlil selama ini justru sangat terasa sekali tidak disukai oleh sebagian besar rakyat, karena Bahlil beberapakali telah membuat kebijakan yang sangat merugikan rakyat," kata Saiful.
Selanjutnya, kata Saiful, naiknya Bahlil sebagai ketua umum Partai Golkar tidak melalui mekanisme demokrasi yang benar.
"Bahlil naik di kursi ketum Golkar hasil dari "kudeta merangkak" Jokowi," kata Saiful.
Berikutnya, Saiful menilai sangat mustahil Jokowi maupun Prabowo Subianto merestui Bahlil untuk menjadi Capres 2029.
"Merestui Bahlil sama halnya dengan membiarkan langkah penjegalan untuk naiknya Gibran maupun Prabowo sebagai Presiden 2029," kata Saiful.
Bukan cuma itu, Saiful melihat Gibran pun sangat berambisi menggantikan Prabowo di kursi RI 1.
"Gibran tentunya akan mencari figur calon pendamping (Cawapres) yang sangat populer dan memiliki tingkat keterpilihan yang tinggi. Bahlil pastinya tidak akan memenuhi kriterianya untuk dapat menjadi calon pendampingnya," pungkas Saiful.
BERITA TERKAIT: