"Pertama konsep masjid. Masjid bukan semata sebagai ibadah atau sekadar ritual keagamaan. Tapi, mengantar kita ke pemahaman pengalaman batin yang luar biasa dengan sang pencipta," kata mantan Menteri Agraria itu.
Artinya, urai Ferry, ketika jiwa kosong, sebaiknya jangan berpolitik. Sehingga, ketika ada orang tidak taat terhadap agamanya, sebaiknya jangan dipercaya. "Apalagi yang mempolitisi agamanya," tambah Ketua Umum PB HMI 1990-1992 itu.
Lalu, konsep kedua, makna salat berjamaah mengandung dua hikmah. Khususnya, terkait kepemimpinan dan loyalitas. Dalam perspektif diri, menurut Ferry diajarkan soal kepemimpinan dan kemampuan.
"Saat salat berjamaah, masih ada faktor kepatutan dan kepantasan. Ada yang lebih senior atau lebih sepuh, pasti dipersilakan jadi imam. Tapi, ketika ada kesalahan dalam salat, bisa ucap subhanallah, untuk koreksi.
Baca Al Fatihah, kita (makmum) juga hafal, tapi tidak boleh sama kerasnya dengan imam, itu pelajaran loyalitas. "Itu cara kita memaknai berpolitik dalam ibadah," paparnya.
Sedangkan yang ketiga, Ferry menjabarkan terkait konsep zakat. Dalam Islam, zakat dapat diartikan mengeluarkan atau membersihkan apa yang bukan dari kita. Sehingga, tidak ada istilah korupsi atau mengambil hak orang lain.
"Milik dia saja harus dikeluarkan, karena itu bukan punya anda. Kenapa koruptor banyak yang taat beragama, itu tidak dibenarkan. Mengambil yang bukan hak tidak diajarkan. Kalau ada banyak koruptor dari kalangan Islam, karena mayoritas penduduk umat islam," pungkasnya.
Hadir juga dalam seminar tersebut, ulama sekaligus Gubernur NTB Muhammad Zainul Madji alias Tuan Guru Bujang (TGB), Konsultan politik dan CEO Polmark Indonesia Eep Saifulloh Fatah, serta Kaprodi Falsafah dan Agama Universitas Paramadina Fuad Mahbub Siradj.
[rus]
BERITA TERKAIT: