"Saya tidak meragukan sedikitpun komitmen Anis-Sandi terhadap keberagaman, baik suku, ras, maupun agama," ujar anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi Gerindra, yang juga seorang aktivis gereja, Aristo Purboadji.
Menurut Aristo, isu SARA, sentimen primordial dan sektarian itu masa lalu. Artinya, sekelompok masyarakat yang masih mempermasalahkan hal-hal tersebut belum berhasil move on. Bangsa Indonesia, kata dia harus melangkah maju dari masa lalu, dan menerima kenyataan masa depan. Pihak manapun yang mengandalkan elektabilitasnya menggunakan isu SARA pasti bunuh diri.
"Itu strategi yang pasti menuju kegagalan," ujarnya.
Aristo meyakini, Anies-Sandi punya komitmen untuk menjaga pluralitas. Hanya minoritas warga Jakarta yang memilih berdasarkan isu primordial, menurut survei terakhir.
"Artinya mayoritas warga Jakarta sudah
move on. Bahkan Prabowo merilis video yang dengan tegas mengatakan bahwa ia sendiri yang akan menurunkan Anies-Sandi jika keduanya tidak komit terhadap keberagaman," katanya.
Ia juga meyakni bahwa Anies-Sandi akan memerangi korupsi. Alasannya, paslon nomor tiga tersebut direkomendasikan oleh mantan dua anggota Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK) yang reputasi integritas dan kejujujurannya luar biasa, yakni Bambang Widjajanto dan Adnan Pandu Praja.
"Kalau Anis-Sandi tidak Pancasilais, tidak komit terhadap keberagaman, dan
tidak anti-korupsi, saya pasti tidak akan mendukung mereka. Dan sekarang ini saya mendukung mereka, karena saya yakin mereka yang terbaik untuk Jakarta. Anies itu lulusan luar negeri di Amerika, yang jiwa pluralis nya tidak diragukan. Sandi itu anak PL (SMA di Panghudi Luhur), dan SMP di sekolah Kristen PSKD. Walaupun keduanya muslim, namun mereka jiwa pluralisnya sangat tidak diragukan," kata penulis buku 'Demokrasi Kuat, Mimpi Buruk Koruptor' itu.
Ia yakin, Anis-Sandi yang juga punya pengalaman sekolah di luar negeri, dan pernah merasakan bagaimana rasanya jadi orang asing di negeri orang tidak akan membuat kaum minoritas menjadi terasing.
"Saya rasa mereka akan merangkul semua kalangan untuk menyatukan warga Jakarta," kata Aristo, mengakihiri
.[wid]
BERITA TERKAIT: