"Ini jelas serangan biadab yang secara sengaja menyasar rakyat sipil. Terlebih dilakukan dengan senjata kimia," kata anggota Komisi I Sukamta kepada redaksi, Sabtu (8/4).
Menurutnya, perang Suriah telah bergerak ke arah yang semakin buram dengan kehadiran tentara Rusia. Setelah sebelumnya Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa dan Timur Tengah terlibat dalam konflik tersebut.
"Kehadiran berbagai negara ke Suriah ini tidak dalam motif misi perdamaian, tetapi dalam kerangka membantu secara militer ke berbagai faksi yang bertikai. Hal ini membuat Suriah terus bergejolak," jelas Sukamta.
Sukamta memandang bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) perlu segera menggelar sidang Dewan Keamanan, untuk mengambil langkah-langkah darurat melakukan investigasi terhadap penggunaan senjata kimia terhadap warga sipil Suriah.
"Perlu diungkap secara jelas siapa pelaku kekejian dengan senjata kimia ini. Dan dihadapkan ke mahkamah internasional," ujarnya.
Lebih jauh, dia menilai perlunya digelar sidang Majelis Umum PBB untuk membuat resolusi penghentian konflik Suriah. Dengan korban jiwa mencapai lebih dari 200 ribu orang dan lebih dari 4,5 juta jiwa mengungsi, Suriah merupakan tragedi kemanusiaan terburuk di era modern.
Oleh sebab itu, Sukamta berharap pemerintah Indonesia dapat berperan lebih aktif menggalang dukungan berbagai negara untuk penghentian konflik di Suriah. Dan secara khusus ikut mendesak PBB untuk menyelenggarakan sidang umum.
"Jika konflik tidak dihentikan, maka pelanggaran demi pelanggaran akan terus dilakukan. Dengan korban sipil terus berjatuhan," tegas politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut.
[wah]
BERITA TERKAIT: