"Apa pun tujuannya, mudarat dari kegiatan tersebut lebih besar dibandingkan dengan manfaatnya," kata Syaifullah Yusuf, dalam keterangan beberapa saat lalu (Selasa, 22/11).
Hal ini disampaikan Gus Ipul menanggapi rencana Gerakan Nasional Penyelamat Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNF MUI) yang akan menggelar unjuk rasa damai 2 Desember 2016 mendatang. Aksi damai itu akan dilakukan dengan shalat Jumat di sepanjang jalan Semanggi sampai Istana Merdeka.
Menurut Gus Ipul, rencana aksi dengan shalat Jumat di jalan itu akan sangat mengganggu kepentingan umum. Pengguna jalan di sepanjang tempat aksi pasti akan dirugikan. Demikian juga perkantoran di sepanjang jalan tersebut.
"Karena itulah, mudlarat kegiatan tersebut akan lebih besar dibanding manfaatnya," tuturnya.
Gus Ipul berpendapat, aksi damai itu memang hak warga negara dan dilindungi UU. Namun demikian, upaya menyampaikan aspirasi politik lewat unjuk rasa harus dilakukan dengan banyak pertimbangan. Apalagi dengan cara melakukan salat Jumat berjamaah di jalan.
"Orang akan sangat gampang menyalahpahami aksi tersebut. Sebab, antara kepentingan ibadah, politik, dan demonstrasi menjadi kabur. Apalagi, sepanjang saya ketahui, tidak pernah ada ajaran salat Jumat di jalan," kata pejabat yang juga mantan Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor ini.
Menurut Gus Ipul, aksi damai yang menggunakan cara ibadah itu bukan pendidikan politik yang baik bagi generasi mendatang. "Hidup ini kan ada benar, patut dan indah. Menyampaikan sesuatu kebenaran juga harus dengan cara yang benar dan indah," tegasnya.
[ysa]
BERITA TERKAIT: