Hal ini diungkapkan fungsionaris muda DPP Partai Golkar, Ahmad Doli Kurnia, dalam diskusi publik di kawasan Tebet, Jakarta, beberapa saat lalu (Senin, 17/10).
"Tidak semua orang di DPP dan di Jakarta yang ambil keputusan itu (dukung Ahok). Ini diambil tiga hari setelah Setya Novanto jadi ketua umum, dan tiga hari kemudian Yorrys bilang ia mengambil alih DPD DKI Jakarta dan saya dukung Ahok," ungkap Doli.
Dia mengatakan, kemenangan Fayakhun Andriadi menjadi Ketua DPD Partai Golkar DKI Jakarta lewat Musyawarah Daerah pada Juni lalu kian memuluskan langkah Ahok menjadi calon yang didukung Golkar.
"Fayakhun bawa Ahok, habis itu baru (DPP Golkar) dukung Jokowi (untuk Pilpres 2019). Pergantian di Golkar sudah satu paket ke semua itu," lanjut Doli.
Dia menduga ada kepentingan dari luar partai yang mengintervensi Golkar agar menjatuhkan dukungan kepada Ahok, padahal sosok Ahok sudah lama tidak disukai sebagian besar masyarakat DKI Jakarta.
"Ini untuk kepentingan siapa? Padahal semua orang sudah marah sama Ahok. Kepentingan siapa yang dilindungi? Suara Golkar suara rakyat, kalau rakyat enggak suka sama Ahok kenapa Golkar masih dukung Ahok?" ucapnya.
Doli mengaku masih mempertanyakan apa manfaat yang didapatkan Golkar dari dukungan partai kepada Ahok. Jawabannya pun belum bisa diberikan oleh Ketua Umum Golkar, Setya Novanto.
"Sampai sekarang saya belum dapat jawaban dari ketua umum apa manfaat dari mendukung Ahok," tegasnya.
[ald]
BERITA TERKAIT: