Begitu kata budayawan senior Ridwan Saidi dalam diskusi bertajuk 'Pilkada Jakarta dalam Cengkeraman Kartel Reklamasi' di Menteng, Jakarta, Senin (3/10).
"Selama ini kita sering dengar ucapan yang kotor dari Balai Kota. Sosok perempuan bahkan juga ikut dimarah-marahin di depan publik. Ini kan menghina kaum Ibu saya. Kalau pemimpin hobinya marah itu bukan pemimpin," ujaenya.
Program kerja seorang pemimpin, lanjutnya, bisa dipikirkan sesuai kebutuhan daerah. Tapi jika soal jiwa kepemimpinan, maka itu hukumnya wajib bagi seluruh pemangku jabatan di negara ini.
Untuk itu, kepada gubernur selanjutnya Ridwan berpesan agar bisa lebih dekat dengan rakyat kecil tanpa harus mengumbar kebencian. Termasuk harus bisa mendengarkan bahkan merealisasikan suara dari warganya.
"Perbaiki proses komunikasi gubernur dengan masyarakat Jakarta biar kota ini lebih terhormat," tandasnya. ‎
[zul]
BERITA TERKAIT: