Pendapat ini disampaikan Adhie M Massardi, menjawab pertanyaan wartawan seputar isu perombakan kabinet, Rabu 12/4) di Jakarta.
Menurut jubir presiden era Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) ini, mustahil Jokowi tidak paham kalau mengangkat dan mengganti (reshuffle) anggota kabinet adalah hak prerogatif presiden seperti diatur dalam Konstitusi. Tapi kenapa Jokowi mengatakan menunggu kesepakatan Pak JK?
"Sebagai politisi paling sepuh di republik ini, Pak JK pasti paham sinyalemen apa yang ditabur Jokowi di Brebes Senin lalu itu. Ini cara Jokowi menepis tekanan politik dari Pak JK dalam perobakan kabinet," ujar koordinator Gerakan Indonesia Bersih (GIB) ini.
Sebagai orang Jawa, mustahil Jokowi mengatakan kepada JK yang sudah sangat senior bahwa reshuffle merupakan hak prerogatif dirinya sebagai presiden, sementara wapres tidak memiliki otoritas menentukan menteri mana yang harus diganti, dan siapa penggantinya.
"Makanya, pesan politik Jokowi di Brebes itu diharapkan sampai kepada Pak JK, atau ada pihak yang mengingatkan Pak JK agar mengikhlaskan kewenangan merombak kabinet 100 persen kepada Presiden Jokowi," katanya.
Adhie juga menengarai penggunaan Brebes sebagai tempat menyampaikan pesan politik reshuffle itu bukan kebetulan.
"Ingat, Brebes itu kota penghasil bawang (merah). Maka ketika Jokowi mengungkap persoalan politik (reshuffle) Istana, seperti mengupas bawang. Pasti ada yang berurai airmata. Bisa jadi karena gagal mencapai tujuan politiknya.
Wallahu a'lam bishawab!" demikian kata Adhie.
[dem]
BERITA TERKAIT: