Pemerintah Indonesia pun sepertinya hanya punya satu strategi dalam menghadapi polemik BBM ini. Strategi itu cukup sederhana, yakni menaikkan harga BBM dengan berbagai macam dalih.
Sejauh ini yang paling umum diutarakan adalah dalih subsidi BBM yang terlalu besar postur APBN. Selain itu, subsidi itu pun dianggap salah sasaran karena dinikmati oleh pengguna kendaraan yang punya kemampuan ekonomi jauh lebih kuat daripada kebanyakan rakyat.
Apakah ada jalan keluar selain yang ditawarkan kubu neolib ini?
Untuk menjawab dalih subsidi di APBN yang terlalu besar, ekonom senior DR. Rizal Ramli beberapa kali mengatakan, langkah paling cepat yag bisa dilakukan adalah memberantas operasi mafia migas yang merugikan negara setidaknya sekitar 1 miliar dolar AS per tahun.
Diiktui dengan kerja keras memperbaiki performa industri migas dalam negeri, termasuk di dalamnya membangun kilang baru. Dengan tiga kilang baru yang masing-masing berkapasitas 200 ribu barrel, misalnya, pemerintah dapat menghemat biaya pengadaan BBM hingga 50 persen.
Selain itu, mantan Menko Perekonomian dan Menteri Keuangan ini, juga mengatakan perlu bagi pemerintah meningkatkan efisiensi produksi BBM.
“
Cost recovery yang saat ini mencapai 32 miliar dolar AS per tahun harus dikurangi secara signifikan. Tidak masuk akal
lifting turun 40 persen tapi
cost recovery justru naik hingga 200 persen. Dengan menekan 20 persen
cost recovery saja, dapat terjadi penghematan 6,4 miliar dolar AS per tahun atau setara dengan sekitar Rp 72 triliun per tahun,†ujar Rizal Ramli.
Anggota Panel Ahli PBB ini juga mengingatkan agar sektor eksplorasi migas diperbaiki. Sejauh ini sudah banyak konsesi yang dibagi-bagi, tetapi relatif tidak tidak ada kegiatan eksplorasi baru. Selain itu sektor birokrasi juga harus dibenarhi. Serta yang terakhir mendorong pemerintah mendiversifikasi energi dari fosil ke sumber-sumber energi terbarukan, seperti gas, angin, hidro, geothermal, dan sinar matahari.
Nah, di luar langkah-langkah itu, masih ada satu langkah lagi yang dapat dilakukan oleh pemerintah untuk keluar dari kebisingan debat kusir soal harga BBM.
Rizal Ramli akan membeberkan menyampaikan strategi jitu sekitar pukul 11.00 WIB siang ini (Selasa, 9/9) di kantornya di Jalan Tebet Dalam IV nomor 7, Jakarta Selatan.
“Jalan yang saya tawarkan ini tidak disukai oleh kelompok neolib dan kaum pedagang yang tidak memperdulikan nasib rakyat banyak dan ingin terus mempertahankan posisi mereka di pusat kekuasaan,†ujar Rizal Ramli.
[dem]
BERITA TERKAIT: