Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Nurjaman Center for Indonesian Democracy (NCID), Jajat Nurjaman kepada redaksi, Rabu (11/6). Hal itu mengacu kepada analisa yang dilakukan tim NCID dari beberapa hasil survey terkini, Fokus Survei Indonesia (FSI) Survei dan Polling Indonesia (SPIN), Lembaga Survei Indonesia (LSI), Populi Center, dan Pusat Data Bersatu (PDB).
Jajat menilai, salah satu alasan semakin menanjaknya elektabilitas Prabowo-Hatta adalah masyarakat sudah mulai bosan dengan gaya pencitraan yang dilakukan pasangan Jokowi-JK, serta cara Timsesnya yang cenderung selalu memojokan pasangan lain.
"Seperti sudah menjadi tradisi baru dalam setiap pemilu di Indonesia paska lengsernya rezim orde baru, masyarakat cenderung lebih simpati kepada calon yang sering di isukan negatif tanpa didasari pembuktian yang nyata," tegas Jajat.
Kedua capres, baik Prabowo maupun Jokowi sama-sama mempunyai kelebihan serta kekurangan. Dukungan dari masyarakat yang sudah menentukan pilihan kepada masing-masing calon sebaiknya tidak tercoreng dengan ulah Timses yang berkampanye secara tidak sehat.
"Saat ini ada pihak yang selalu diserang dengan isu negatif, tanpa bukti konkrit, ini akan menurunkan kualitas Pilpres, hal seperti ini harus dihindari. Seharusnya seluruh pihak menaruh perhatian lebih kepada kelebihan masing-masing calon, bukan malah saling menjelekan dan memalsukan fakta," tandas jajat.
Berikut hasil survei terbaru elektabilitas pasangan capres-cawapres; FSI (Prabowo-Hatta 45,7% dan Jokowi-JK 45,2%), SPIN (Prabowo-Hatta 44,9% dan Jokowi-JK 40,1%), Lembaga Survei Indonesia (LSI) (Prabowo-Hatta 35% di DKI, 33,53 di Banten dan Jokowi-JK 30,66% di DKI, 26,25% di Banten), Populi Center (Prabowo-Hatta 36,9% dan Jokowi-JK 47,5%), dan PDB (Prabowo-Hatta 26,5% dan Jokowi-JK 32,2%).
[rus]
BERITA TERKAIT: