"Tetap saja belum ada pasangan yang final dan siap saji ke tengah publik. Sebagian partai terlihat panik, tergesa dan instant," kata pengamat politik dari Universitas Presiden, Munawar Fuad dalam keterangannya, Minggu (18/5).
Selanjutnya belum ada actor Capres-Cawapres yang getol bicara visi, misi dan program nyata. Padahal, rakyat butuhkan “koalisi sejatiâ€, bukan “koalisi basa-basi†atau “koalisi asal jadi.†Koalisi asal jadi, kata Fuad, ditandai dengan segala upaya partai berkoalisi sembari mengusung pasangan Capres-Cawapres asal jadi, dengan segala cara yang penting jadi presiden-wakil presiden; dengan cara apapun. Asal jadi menteri dalam kabinet koalisi mendatang.
"Jangan-jangan hasilnya akan berwujud Presiden jadi-jadian dan turunanannya pemerintah jadi-jadian. Bukan yang dikehendaki rakyat," ungkapnya.
Menurut Fuad, koalisi basa-basi ramai dengan saling sapa, saling kunjung dan saling lempar kata. Padahal cuma basaibasi. Rakyat melihat banyak perilaku elit politik yang penuh ambisi, saling berburu kuasa dan cuma pencitraan di depan kamera dan publik, agar terlihat harmonis padahal saling sandera dan saling jegal.
"Koalisi sejati tentunya, lebih pada koalisi yang dibangun berdasarkan visi, misi, platform dan agenda yang jelas. Titik temu koalisi pada cita bersama dan kepentingan bersama, demi bangsa dan negara yan terus lebih baik," jelasnya.
Semestinya para aktor Capres-Cawapres dan juga elit partai menyadari bahwa koalisi apapun semuanya akan sangat bergantung pada preferensi, daya minat dan arus aspirasi suara rakyat mau kemana. Konsekuensi pemilihan Capres-Cawapres secara langsung bukan tergantung pada mesin partai semata, juga bukan pada legitimasi tokoh ataupun kiai, melainkan pada kebebasan dan kemerdekaan setiap rakyat dari desa sampai perkotaan untuk menentukan hak pilihnya.
"Ketika PDIP menang Pemilu 1999, tak otomatis menangkan Pilpres. Demikian, saat 2004, saat Golkar menangkan Pileg, Capres Golkar gagal," tandas Fuad.
[rus]
BERITA TERKAIT: