Survei lembaga Indokator Politik Indonesia mencatat, pasangan capres-cawapres Jokowi-JK memperoleh peringkat tertinggi sebesar 60,2 persen, dibandingkan berpasangan dengan Mahfud MD melorot ke 44,9 persen dan semakin terjun jika berduet dengan Abraham sama di angka 42,9 persen.
Perpaduan sipil-militer juga tidak mendongkrak elektabilitas Jokowi. Jika capres partai Banteng itu disandingkan dengan figur militer, Ryamizard Ryacudu hanya 42,5 persen, dan Panglima TNI Jenderal Moldoko anjlok ke 39,3 persen.
Sosok Cawapres memang menjadi faktor penting untuk memastikan kemenangan Jokowi. Menurut hasil survei elektabilitas antar capres, Jokowi mulai tersusul oleh Prabowo. Dalam survei
top of mind, menurut hasil survei, Jokowi masih unggul dengan elektabilitas sebesar 31,8 persen. Prabowo menyusul dibawahnya dengan 19,8 persen. Elektabilitas Jokowi itu turun dari survei bulan Maret 2014, yang saat itu mendapatkan 32,5 persen. Sementara elektabilitas Prabowo saat itu baru di angka 11,4 persen.
"Suara Jokowi cenderung stagnan dan menurun. Yang menarik prabowo secara
top of mind naik signifikan," kata Direktur Eksekutif Indikator Politik Burhanuddin Muhtadi saat memaparkan hasil survei di Jakarta, Selasa (13/5).
Ia menambahkan, kemungkinan hanya terjadi dua poros kekuatan capres yaitu anatar Jokowi dan Prabowo.
"Melihat kondisi ini, hanya Jokowi dan Prabowo yang akan bersaing ketat di pemilihan nanti. Karena elektabilitas Prabowo dalam dua bulan ini terus menguat," jelas Burhanudin dalam keterangannya.
Populasi Indikator Politik adalah seluruh warga negara Indonesia yang mempunyai hak pilih dengan jumlah sampel 1220 orang.
Margin of eror plus minus 2,9 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen. Metode dilakukan dengan wawancara tatap muka 20-26 April 2014.
[rus]
BERITA TERKAIT: