Demikian disampaikan pengamat komunikasi media politik dari Universitas Indonesia (UI), Dr Irwansyah kepada redaksi, Minggu (11/5).
Jelas dia, PDIP akan berkoalisi dengan Nesdem dan PKB, sedangkan Gerindra akan berkoalisi dengan poros besar, yaitu Golkar, Demokrat, PAN, PKS, PPP dan Hanura.
"Untuk Golkar dan Demokrat, pasti akan lebih memilih Gerindra ketimbah PDIP," kata Irwansyah.
Alasannya, dua pimpinan partai SBY dan Aburizal Bakrie (Ical) cukup dekat, dan memiliki komunikasi yang baik dengan Ketua Dewan Pembina Gerindra Prabowo Subianto. Selanjutnya SBY dan Ical sangat susah berkomunikasi dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, yang menjadi penghalang menjalin koalisi.
Sementara untuk membentuk koalisi baru, menurut Irwansyah, tidak mudah. Karena figur yang bisa "dijual" di Demokrat dan Golkar tidak akan bisa menandingi Prabowo (Gerindra) dan Jokowi (PDIP).
"Saat ini sulit membuat poros baru. Karena sudah ada figur kuat Prabowo dan Jokowi. SBY dan Ical sepertinya akan mendukung Prabowo," ungkapnya.
Untuk pasangan capres dan cawapres sendiri, Irwansyah memperediksi tidak jauh dari pemberitaan selama ini. Yaitu Prabowo Subianto dengan Hatta Rajasa dan Joko Widodo dengan Jusuf Kalla.
[rus]
BERITA TERKAIT: