Demikian disampaikan Direktur Riset Median, Rico Marbun. Pernyataan Rico ini terkait dengan pro-kontra pencapresan Jokowi. Tim riset Median sendiri telah mendata, dan setidaknya ada 14 janji Jokowi yang tercatat dan terekam di media massa.
"Berdasarkan data itu, kami menanyakan tingkat pengetahuan publik apakah mereka tahu, ingat atau tidak dengan Janji jokowi tersebut. Setelah itu kami menanyakan apakah jokowi telah berhasil memenuhi janji tersebut atau tidak," kata Rico kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Minggu, 30/3).
Berdarkan hasil survei Median, katanya, ditemukan bahwa ada lima dari 14 janji Jokowi yang diingat publik paling tinggi, atau di atas 80 persen. Yaitu janji mengatasi masalah banjir (93,5 persen); mengatasi masalah kemacetan (91 persen); layanan kesehatan gratis (83,5 persen); pendidikan gratis dari SD hingga SMU (82,5 persen); dan memimpin Jakarta selama 5 tahun (81,5 persen)
"Cukup besarnya tingkat pengetahuan publik Jakarta terhadap janji-janji Jokowi tersebut bisa menjadi batu sandungan baginya untuk maju dalam bursa capres mendatang, mengingat berdasarkan survei publik Jakarta masih belum melihat realisasi janji-janji itu," ujar Rico.
Terbukti, katanya lagi, berdasarkan survei yang ditanyakan kepada publik mengenai persetujuan terhadap pencapresan Jokowi, hasilnya 55.5 persen warga Jakarta tidak setuju Jokowi mencapreskan diri, dan hanya 32,5 persen setuju. Ketika ditanyakan alasan penolakan atas pencapresan Jokowi, jawaban publik Jakarta setidaknya mengerucut pada tiga masalah yang selama ini menjadi janji Jokowi untuk direalisasikan. Yaitu janji Jokowi untuk tuntaskan masa jabatan (34,8 persen); masalah kemacetan belum teratasi (30,6 persen); dan masalah banjir belum teratasi (17,8 persen)
Masih kata Rico, walaupun telah tumbuh opini yang dijadikan alasan kuat pendukung Jokowi maju sebagai capres, yaitu Jokowi akan berhasil mengatasi masalah utama di Jakarta seperti macet dan banjir jika Jokowi telah menjadi presiden, namun sebagian publik Jakarta masih ragu.
"Berdasarkan hasil survei, 60 persen publik Jakarta memandang walaupun Jokowi berhasil menjadi presiden, belum tentu masalah Jakarta akan semakin mudah teratasi," jelas Rico.
Rico juga menjelaskan, survei ini sendiri di lakukan secara
face to face interview dalam kurun waktu 3-16 Maret 2014 kepada publik Jakarta dengan total responden yang diambil sebanyak 1200 orang. Responden itu dipilih secara acak dengan teknik
multistage random sampling dengan
margin of error plus minus 2,8 persen.
"Tingkat kepecayaan survei ini 95 persen," demikian Rico.
[ysa]
BERITA TERKAIT: