"Saya senyum saja. Perkara siapa yang 'lebih pantas' dan yang 'tidak', biar publik yang menilainya, bahkan boleh juga kalau mau mengkonfirmasi kepada Ngarso Dalem Sri Sultan HB X, juga Walikota Solo Pak FX Rudi Hadiyatmo dan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, karena beliau-beliau semua sudah tahu apa dan bagaimana seharusnya," kata Roy kepada
Rakyat Merdeka Online, sesaat lalu (Selasa, 25/2).
Kemarin diberitakan oleh situs ini,
Rahmad Pribadi (klik di sini) , yang mengklaim sebagai pemerhati budaya, mengatakan, sebagai orang Jawa dirinya merasa risih melihat kelakukan Roy Suryo. Penyelesaian konflik Keraton Solo dengan cara mengundang dua tokoh sentral yakni Paku Buwono XIII Hangabehi dan Panembahan Agung Tedjowulan ke Gedung Agung di Yogyakarta menyalahi pakem yang ada. Dia menilai langkah itu lebih bermuatan politis daripada upaya untuk menyelesaikan masalah.
"Mungkin Rahmad, saking sibuknya Kampanye di Dapil Jogja karena dia sebenarnya adalah caleg Nomor 3 Partai Golkar dari Dapil Jogja, tidak tahu bahwa sudah ada pertemuan dengan pejabat-pejabat itu sebelumnya, bahkan dengan mayoritas keluarga besar Keraton Solo," kata Roy Suryo yang juga politisi Demokrat.
Ia menambahkan, penyelesaian yang sangat bijak dan solutif kemarin tidak hanya sudah melibatkan Walikota Solo dan Gubernur Jateng, tetapi juga semua pihak. Bahkan Roy mengaku sudah meminta "izin" kepada Ngarso Dalem Sri Sultan HB X dan Kangjeng Gusti SP PA IX sebelumnya.
"Jadi terlalu sempit jika dikaitkan dengan politik, apalagi yang berkomentar ini juga sedang menjadi Calon Legislatif juga yang tentu perlu panggung.
Case closed, sudah jelas arah dan maksudnya," tegas mantan anggota Komisi I DPR itu.
[ald]
BERITA TERKAIT: