Warga dari berbagai penjuru daerah di Jawa Timur tetap ramai memadati arena debat publik yang berlangsung tak kurang dari lima jam di Aula Balai Adika Hotel Majapahit, Surabaya.
"Konvensi Rakyat adalah hajatan rakyat. Dilarang atau tidak, rakyat yang punya kehendak. Semakin dilarang akan semakin besar. Konvensi Rakyat dilarang maka rakyat yang akan marah," ujar Sekjen Komite Konvensi Rakyat, Rommy Fibri di sela debat publik pertama Konvensi Rakyat, sesaat tadi (Minggu, 5/12).
Sedianya, debat publik pertama Konvensi Capres Rakyat hari ini digelar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unair, Surabaya. Namun acara yang sudah siap digelar tersebut terpaksa dialihkan lokasinya ke Hotel Majapahit. Pembatalan dikabarkan ada intervensi yang melarang Konvensi Rakyat diselenggarakan di kampus Unair tersebut.
Panitia kemudian memindahkan acara ke Hotel Majapahit dengan pertimbangan hotel ini memiliki akar sejarah yang kuat terutama semangat perjuangan merebut kemerdekaan. Pada 10 November 1946, arek-arek Suroboyo mendatangi hotel ini karena mengibarkan bendera Belanda warna biru merah dan putih di tiang hotel. Bendera diturunkan lalu dirobek warna birunya dan dikibarkan kembali.
Rommy menegaskan bahwa Konvensi Rakyat digelar dengan harapan menjadi pembuka atas kebekuan dan kejumudan semangat politik yang ada di masyarakat saat ini, karena banyaknya politisi yang tertangkap kasus korupsi.
"Konvensi rakyat ingin memunculkan pemimpin yang benar-benar dibutuhkan rakyat," demikian Rommy.
Debat publik pertama Konvensi Capres Rakyat yang digelar mulai pukul 10.00 pagi tadi benar-benar menyedot perhatian publik. Aula Balai Adika Hotel Majapahit Surabaya tempat dilangsungkanya debat, dijejali warga Surabaya dan daerah Jawa Timur lainnya untuk mendengar visi misi tujuh kandidat konvensi. Para pendukung masing-masing kandidat tak ketinggalan turut meramaikan acara.
Para pendukung masing-masing kandidat meneriakkan yel-yel untuk jagoannya. Isran Noor Presiden, Yusril Presiden dan dan seluruh kandidat lainnya diteriakan para pendukung saat masing-masing jagoannya dikenalkan pemandu debat lewat pengeras suara.
Panitia nampak kewalahan karena aula tak bisa menampung semua warga yang datang. Tak kurang dari seribu pendukung Isran Noor yang merupakan warga Kutai yang tinggal di Surabaya, dan 700 an pendukung Yusril, misalnya, datang ke acara ini.
[wid]