"Selamat jalan Mas Gusti Joyo. Mudah-mudahan Allah SWT mengampuni segala dosa, menerima seluruh amal ibadah, dan menerima arwah serta menempatkannya di surga jannatuna'iem," kata Hajriyanto dalam keterangan elektroniknya (Rabu, 1/1).
Gusti Joyokusumo wafat di Rumah Sakit Medistra Jakarta Selatan kemarin pukul 16.58 WIB. Almarhum dirawat di Ruang ICU RS Medistra Jakarta sejak Jumat (27/12) karena menderita komplikasi diabetes, ginjal, dan jantung.
Hajriyanto menyebut Joyokusumo adalah seorang ningrat yang merakyat dan hidup sederhana.
"Mungkin Mas Joyokusumo lebih tepat disebut sebagai ningrat tetapi tidak sembarang ningrat. Beliau ningrat yang sangat merakyat, sangat populis, dan hidupnya sederhana sekali. Mas Joyo untuk ukuran keluarga kerajaan besar terhitung sangat bersahaja," ujarnya.
Meski "ningrat yang melarat" secara ekonomi keuangan, kata Hajriyanto, tetapi Joyokusumo kaya raya secara moral, etika, dan spiritual. Beliau sangat aktif dalam kegiatan-kegiatan kebudayaan, keagamaan dan keislaman di Keraton Ngayogyakarta Adiningrat.
"Sebagai "Sekneg" Kesultanan atau Kerajaan, Gusti Joyo penuh antusiasme menghidupkan semangat kerohanian Islam dalam keraton Ngayogyakarta sampai akhir hayatnya," ujar dia.
Meski anak raja atau sultan, Joyokusumo sangatlah merakyat. Sebagai bangsawan dalam arti yang sebenarnya beliau tidak pernah menonjolkan dirinya sebagai putra raja.
"Beliau jarang sekali menyantumkan gelarnya GBPH (Gusti Bendoro Pangeran Haryo) dalam penulisan nama dan juga dalam kehidupan (administrasi) sehari-hari. Maka salah besar kalau ada orang yang beranggapan bahwa semua keluarga raja itu feodal. Mas Joyokusumo adalah pengecualian. Beliau sangat jauh dari sikap-sikap feodalisme," paparnya.
[dem]
BERITA TERKAIT: