Dapat dikatakan hampir 90 persen persoalan yang dilaporkan masyarakat merujuk pada pelanggaran etika profesi serse. Menurut politisi Nasdem Kisman Latumakulita hal ini memperlihatkan Sutarman juga tidak memiliki prestasi yang baik dalam pembinaan anggota Polri, khususnya serse.
"Kelihatannya kita tak dapat mencegah Sutarman menjadi Kapolri. Tetapi dia harus tahu bahwa publik mengamati sepak terjang dia selama ini. Dan dari catatan yang ada, dia tak punya prestasi menonjol," ujar Kisman dalam perbincangan dengan redaksi.
Karier Sutarman mulai moncer saat ia menjadi Ajudan Presiden Abdurrahman Wahid pada 2000-2001. Setelah Presiden Gus Dur turun dari jabatannya, Sutarman menjadi Kapoltabes Palembang (2001-2003), diikuti penugasan sebagai Direktur Reserse dan Kriminal Polda Jawa Timur (2003-2004), dan Kapolwiltabes Surabaya (2004-2005).
Dari Surabaya, Sutarman ditugaskan sebagai Kepri (2005-2008), disusul sebagai Kepala Selapa Lemdiklat Polri (2008-2010), lalu menjadi Kapolda Jabar (2010-2011), dan Kapolda Metro Jaya sebelum akhirnya menjadi Kabareskrim.
"Saat ia menjadi Kapolda Riau ada kasus penangkapan narkoba yang jaraknya hanya sekitar 3 sampai 5 kapling dari kantor Sutarman. Ini memperlihatkan kegagalannya mengelola keamanan lingkungan yang paling dekat dengan dirinya," ujar Kisman lagi.
Menurut Kisman, harapan minimal masyarakat adalah Sutarman memiliki komitmen yang dapat diukur bersama.
"Dia (Sutarman) harus tahu bahwa kita menyoroti sepak terjang dia selama ini," demikian Kisman.
[dem]
BERITA TERKAIT: