Ketua KPU Menengok Kesiapan Pemilu di Tengah Orang Baduy

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/ruslan-tambak-1'>RUSLAN TAMBAK</a>
LAPORAN: RUSLAN TAMBAK
  • Jumat, 16 Agustus 2013, 12:04 WIB
Ketua KPU Menengok Kesiapan Pemilu di Tengah Orang Baduy
husni kamil manik/dok.kpu
rmol news logo Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI) ingin memastikan kesiapan menhadapi pemilu 2014 berlaku menyeluruh, tak terkecuali sampai ke daerah-daerah pedalaman di antero Indonesia.

Hal itu diimplementasikan Ketua KPU, Husni Kamil Manik, dalam aktivitasnya kemarin saat mengunjungi warga Baduy di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.  Husni sekaligus ingin memastikan kesiapan masyarakat Baduy dalam menghadapi Pemilukada Kabupaten Lebak yang akan digelar 31 Agustus mendatang, dan Pemilu Anggota DPR dan DPRD yang akan digelar 9 April 2014.

Bersama rombongan dari KPU Lebak dan PPS Kanekes, Husni menuju kantor PPS Kanekes dan rumah kepala desa Kanekes Djaro Dainah. Diskusi digelar di beranda rumah kepala desa dengan warga, PPS Kanekes dan PPK  Leuwidamar ditemani air putih dan penganan yang terbuat dari gula aren.  

Ketua KPU RI Husni Kamil Manik menanyakan banyak hal kepada kepala desa dan PPS Kanekes mulai dari kegiatan sosialisasi pemilu dan pemilukada, pemutakhiran data pemilih, kegiatan kampanye, distribusi logistik dan partisipasi masyarakat Baduy dalam Pemilu.

Husni juga meminta penjelasan soal data pemilih di Desa Kanekes, di mana nama warga yang satu dengan yang lain persis sama atau suku kata pertamanya sama seperti kata Ambo dan Aya. Begitu juga hal-hal yang menyebabkan partisipasi masyarakat Baduy dalam pemilu dan Pemilukada masih rendah.

Kepala Desa Kanekes, Djaro Dainah, mengatakan, dalam penulisan nama warga Baduy tidak banyak yang memakai nama aslinya. Bagi laki-laki yang sudah berkeluarga dan punya anak namanya selalu diawali dengan kata Aya yang berarti ayah dan bagi perempuan diawali dengan kata Ambo yang berarti ibu.

"Di sini sulit mengetahui nama sebenarnya karena memanggil nama itu dianggap tidak sopan," ujarnya.

Namun, Djaro Dainah memastikan meski namanya sama bukan berarti datanya ganda karena orangnya berbeda. Sebab ada beberapa orang yang memakai namanya hanya Aya dan Ambo saja tanpa disertai nama anaknya di belakang.

"Bukan hanya dalam panggilan sehari-hari, dalam kartu tanda penduduk (KTP) juga begitu," ujarnya.

Husni menyarankan untuk memudahkan identifikasi warga meski tetap memakai nama Aya dan Ambo alangkah baiknya dilengkapi dengan nama anaknya di belakang. Seperti yang dicontohkan Djaro Dainah untuk menyebut nama bapak Karmain ditulis dengan lengkap Aya Karmain. Sehingga suku kata kedua dari setiap nama orang akan berbeda.  

Husni juga mendapati metode pengumuman daftar pemilih sementara (DPS) yang berbeda di banding daerah lain. Selain dilakukan dengan mengumumkan DPS di kantor desa, petugas pemutakhiran data pemilih (pantarlih) juga mengumumkannya ke kampung-kampung dalam setiap pertemuan dengan warga.

Djaro Dainah mengatakan dalam Pemilukada warga Kanekes yang tercatat sebagai pemilih sebanyak 7.296 orang. Para tokoh adat, kata Djaro Dainah, memberikan kebebasan kepada warganya untuk memilih baik dalam Pemilukada, Pemilu Anggota DPR dan DPRD maupun Pemilu Presiden dan Wakil Presiden.  

Soal partisipasi yang masih tergolong rendah, kata Djaro Dainah, bukan berarti warga Baduy tidak peduli dengan kegiatan demokrasi. Hanya saja seringkali jadwal pesta demokrasi bersamaan dengan jadwal upacara adat warga Baduy. [ald]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA