Demikian dikatakan pengamat politik dari Universitas Indonesia, Iberamsjah dalam rilis yang diterima
Rakyat Merdeka Online, sesaat lalu (Senin, 22/7).
Iberamsjah mengingatkan, SBY bisa menjadi presiden bukan hanya bermodal popularitas tapi didukung oleh
track record dan prestasi mumpuni yang tercatat sejak dia menjadi taruna. Berbeda dengan Jokowi yang bermodalkan popularitas semata tanpa adanya prestasi yang bisa dibanggakan.
"Tidak bisa kita menyamakan SBY dan Jokowi. Itu ibarat bumi dan langit. SBY sebelum menjadi presiden popularitasnya didukung oleh fakta bahwa dia adalah sosok yang cerdas dengan segudang prestasi," kata dia.
Di kalangan militer, SBY juga dikenal sebagai perwira konseptor yang diakui oleh semua pihak. Terlebih lagi, momentum SBY menjadi presiden juga tepat yakni ketika dipecat oleh Presiden Megawati. Citra SBY yang 'dizolimi' kemudian dikapitalisasi untuk kepentingan politiknya. Sementara Jokowi sudah terlalu
jumawa dengan berbagai hasil survei yang menempatkan dirinya sebagai calon presiden paling populer.
Iberamsjah pun memprediksi, popularitas Jokowi lamban laun akan memudar seiring kesadaran masyarakat bahwa tidak ada satu pun prestasi yang dihasilkan mantan Walikota Surakarta itu selama menjabat gubernur DKI Jakarta.
"Kerjanya hanya
blusukan, tapi prestasi nol," tekannya.
Toh, buktinya, masih kata Iberamsjah, Jakarta tetap saja banjir dan persoalan PKL jua tak terselesaikan. Sampai saat ini belum ada langkah konkrit Jokowi atas berbagai persoalan yang dihadapi warga Jakarta
.[wid]
BERITA TERKAIT: