Penegasan itu disampaikan usai menghadiri upacara kenegaraan penyerahan alutsista strategis kepada TNI Angkatan Udara di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin, 3 November 2025.
Di hadapan jajaran pertahanan dan tamu undangan, Prabowo menilai penambahan armada modern tersebut bukan sekadar seremoni pengadaan alat utama sistem persenjataan, melainkan bagian dari langkah besar membangun fondasi kekuatan negara di tengah dunia yang terus bergerak dalam ketidakpastian geopolitik.
“Kits menerima enam pesawat tempur ya, Rafale dan pesawat angkut Falcon, pesawat angkut VIP, dan A400. Ada radar juga. Jadi, Saudara-saudara, ini hanya saya kira salah satu tonggak penambahan kekuatan,” ujar Prabowo.
Menurut Presiden, Indonesia tidak memiliki ambisi ofensif terhadap bangsa lain, namun harus memastikan kapasitas pertahanan tetap unggul sebagai kekuatan penangkal.
“Kita harus terus tingkatkan kekuatan pertahanan kita sebagai penangkal, sebagai deterrent. Kita tidak punya kepentingan selain untuk menjaga wilayah kita sendiri,” tegasnya.
Prabowo menyoroti bahwa lanskap geopolitik global yang sarat ketegangan menuntut setiap negara memiliki pertahanan kokoh sebagai syarat utama stabilitas dan kemerdekaan.
Karena itu, pembangunan kekuatan pertahanan nasional dipastikan akan terus berlanjut dengan orientasi menyeluruh pada pengamanan udara, laut, dan darat.
“Dalam waktu yang akan datang terus akan kita bangun kekuatan kita. Kita ingin mengamankan wilayah udara, wilayah laut, dan tentunya wilayah daratan kita,” demikian kata Prabowo.
BERITA TERKAIT: