Mereka adalah Dewi Ni Kadek, Martiadi Ida Ayu, dan Pratiwi Luh Putu. Kesemuanya berhasil mengÂumpulkan skor 466 mengalahkan tuan rumah yang digawangi oleh Azlani Nurul, Jumae’en Nur, dan Sheik Alau’ddin dengan skor 461 dan berhak mendapatkan perak. Skor yang sama juga diraih Vietnam tapi masih kalah unggul dalam kombinasi gerak dari tuan rumah.
Medali emas Indonesia lainnya disumbang dari cabor atletik dan tinju. Cabor atletik menambah tiga emas di ajang SEA Games 2015. Yang paling istimewa diraih Maria Londa. Selain meraih emas, atlet asal Bali ini memecahkan rekor nasional.
Rekor nasional lompat jauh sebelumnya adalah 6,55 meter atas nama Maria Londa yang dicÂetak saat turun pada Asian Games 2014 sedangkan rekor SEA Games hingga saat ini masih dipegang atlet Filipina, Marestella Torres dengan lompatan 6,71 meter.
Menurut Maria, persaingan kompetisi kalia cukup ketat karÂena lawan yang dihadapi adalah rival beratnya di Asian Games 2014 yaitu atlet asal Vietnam, Bui Thi Thu Thao. Tapi kali ini Bui harus puas di posisi dua denÂgan lompatan 6,65 meter.
Untuk medali perunggu direbut oleh atlet asal Filipina yang juga pemegang rekor SEAGames yaitu Marestella Torres. Rekor kejuaraan dua tahunan itu dicetak pada SEA Games 2011 di Palembang.
Emas dari Maria Londa ini merupakan yang keempat dari cabang atletik. Sebelumnya emas dipersembahkan oleh Hendro dari jalan cepat, Triyaningsih dari 5.000 meter dan Agus Prayogo 10 ribu meter.
Selain memecahkan rekor nasional, prestasi cemerlang Maria itu akana membawa dirinya terbang menuju kejuaraan dunia di Beijing, Tiongkok, tahun ini memÂbuka peluang untuk bertanding pada Olimpiade Rio de Janeiro 2016.
Di multievent dua tahun ini, caÂbor tinju juga mempersembahkan emas melalui Kornelis Kwangu Langu setelah mengalahkan petinju asal Filipina, Rogen Ladon dalam final pertandingan tinju kelas 46-49 kg. Dalam pertarungan empat ronde itu dua wasit menyatakan petinju Indonesia menang dengan skor 29-28, 29-28 dan satu juri menÂgunggulkan Ladon 28-29 sehingga Kornelis menang 2-1.
Tim tinju sudah menyumbangÂkan satu medali emas, satu medali perak dan dua medali perunggu. Medali perunggu dipersembahkan oleh Ester Kalayukin pada kelas 46-49 kilogram putri dan Farrand Papedang pada kelas 60 kilogram.
Di cabor Voli, tim Indonesia sempat mendapat protes dari tim Filipina. Mereka mengajuÂkan permintaan konyol kepada panitia pelaksana SEA Games Singapura memeriksa jender atau jenis kelamin pemain tim bola voli putri Indonesia.
Pelatih Filipina, Roger Gorayeb, mengaku meragukan peÂmain Indonesia, Aprilia Santini Manganang, karena penampilan dan fisiknya yang tampak beroÂtot. "Dia (Aprilia) kuat sekali. Ini seperti memasukkan pemain putra dalam tim putri," kata Gorayeb dikutip Inquirer.net.
Juru bicara kontingen Filipina membenarkan bahwa timnya telah mengajukan permintaan tersebut. "Setelah kami mengajuÂkan (protes) tersebut, terserah keÂpada manajer pertandingan untuk meneruskannya kepada federasi bola voli ataupun pengurus bola voli," kata juru bicara tersebut.
Menanggapi hal itu komandan Kontingen Indonesia, Taufik Hidayat, tidak menggubris protes Filipina kepada Komite Penyelenggara SEA Games 2015 (SINGSOC). Kepada wartawan Taufik berpendapat bahwa protes yang dilakukan pihak Filipina tidak pada tempatnya. "Kalau mau protes kemarin seharusnya di technical meeting," ucap Taufik.
Tes jender merupakan satu hal yang sensitif dan berpeluang memancing kontroversi karÂena akan mempunyai dampak psikologis pada atlet. Sementara itu, proses untuk membuktikan hal tersebut sangat kompleks.
Beberapa kasus pernah terjadi menyangkut masalah ini. Atlet lari Afrika Selatan, Caster Semenya, yang merupakan juara dunia lari 800 meter, pernah menjalani tes jender sebelum dinyatakan sah untuk berlomba. ***
BERITA TERKAIT: