Safari ini sebagai salah satu usaha rekonsiliasi sekaligus mencari data dan informasi yang lengkap terhadap klub tersebut.
"Dari pertemuan ini, kami mendapatkan banyak masukan dan informasi yang nantinya akan menjadi bekal oleh-oleh yang kami laporkan kepada Menpora," kata Asisten Deputi Organisasi Olahraga, Dody Iswandi seperti dilansir tim media Kemenpora di Jakarta, Sabtu (9/5).
Hasilnya akan didiskusikan dan telaah lebih dalam lagi oleh pihaknya dengan Menpora.
"Yang penting kita semua datang ke sini memiliki cita-cita yang sama untuk membenahi sepakbola Indonesia ke depan lebih baik lagi," katanya.
Sementara itu, Direktur Persebaya 1927, Saleh Ismail Mukadar menyatakan senang dengan kedatangan rombongan dari Kemenpora. Kepada rombongan dari Kemenpora, Saleh menceritakan bagaimana sejarah perjalanan Persebaya mulai dari Ligina X (2004) yang ketika itu berhasil menjadi juara hingga kondisi yang terjadi sekarang.
"Sebenarnya tidak ada dualisme di Persebaya, tim Persebaya itu hanya satu yang lahir tahun 1927. Bahkan pada tahun 2012, Persebaya sekarang ini masih diakui oleh PSSI. Entah karena apa tiba-tiba Persebaya sekarang ini diambil alih dan muncul nama Persebaya yang lainnya," kata Saleh.
Ia berharap dari hasil pertemuan tersebut bisa menghasilkan sesuatu yang terbaik untuk sepakbola Indonesia.
Tim Transisi bentukan pemerintah mendapatkan tugas yang antara lain mengambilalih tugas PSSI setelah dibekukan per 17 April lalu. Tim ini terdiri dari 17 personel yang memiliki latar belakang berbeda mulai walikota, politisi, mantan pejabat negara maupun militer, penggiat sepak bola Indonesia, pengusaha hingga artis.
Sebanyak 17 anggota Tim Transisi itu adalah FX Hadi Rudyatmo, Lodewijk F Paulus, Ridwan Kamil, Eddy Rumpoko, Ricky Yakobi, Bibik Samad Rianto, Darmin Nasution, Ceppy T Wartono, Tommy Kurniawan, Iwan Rukminto, Francis Wanandi, Saut H Sirait, Andrew Darwis, Farid Husaini,Zuhairi Misrawi, Dias Faizal Malik Hendropriyono dan Velix F Wanggai.
[wid]
BERITA TERKAIT: