Selamat Idul Fitri
Selamat Idul Fitri Mudik

Dibayangi Mosi Inggris, Sepp Blatter Bertahan

Jumat, 03 Juni 2011, 06:48 WIB
Dibayangi Mosi Inggris, Sepp Blatter Bertahan
Sepp Blatter
RMOL. Presiden FIFA, Sepp Blatter meneruskan rezimnya di induk organisasi sepakbola dunia itu dengan kembali terpilih mendu­­­­duki jabatan Presiden Federation International Football Assosia­ti­on (FIFA) periode 2011-2015. Pen­etapan itu dilakukan setelah secara aklamasi dini hari kemarin WIB.

Blatter menjadi calon tunggal setelah rivalnya yang juga Presi­den Konfederasi Sepakbola Asia (AFC), Mohammed bin Ham­mam mengundurkan diri pada Minggu, (29/5) sebelum akhir­nya statusnya di FIFA dibekukan karena terlibat politik uang.

Kongres ke-61 FIFA menetap­kan Blatter sebagai Presiden ke empat kali berturut-turut dengan mengumpulkan 186 suara sah da­ri 203 surat suara yang dise­bar­kan. Blatter mengambil alih pucuk pimpinan FIFA sejak ta­hun 1998, sedang menerima te­kanan dari publik untuk segera melakukan reformasi di tubuh FIFA, terkait dengan tuduhan korupsi dalam penunjukan tuan rumah Piala Dunia 2018 dan 2022, yang dimenangkan oleh Russia dan Qatar.

Beberapa sponsor besar FIFA juga menyuarakan kepada Blat­­ter untuk menggerakan refor­­­­­­masi dan transparansi di tubuh FIFA. Karena kasus korupsi yang terjadi selama pemilihan di­nilai telah mencederai penci­tra­­an sepak bola sebagai olah raga yang menjun­jung tinggi spor­tivitas.

Blatter menjanjikan adanya perubahan di dalam proses pe­milihan tuan rumah Piala Dunia nanti, dengan cara melibatkan se­mua anggota FIFA yang ber­jumlah 208 negara. Sebelumnya tuan rumah Piala Dunia dipilih oleh 24 anggota Komite Ekse­kutif yang mempunyai wewe­nang memilih tempat dihelatnya turnamen terbesar dalam olahra­ga sepak bola tersebut.

Sebelumnya Inggris melalui federasinya (FA) sempat memin­ta agar pemilihan Presiden FIFA ditunda menyusul kasus suap yang mendera Blatter. Mosi Ing­gris untuk menunda pemilihan itu ditolak oleh 172 suara ber­ban­ding 17 suara yang mendu­kung penundaan.

Menanggapi hal tersebut, Blat­ter berjanji tidak akan mem­balas dendam pada FA, meski federasi negara Ratu Elizabeth itu menjadi penjegal utama Blat­ter saat pe­milihan Presiden FI­FA. Ulah FA ini disinyalir bera­kar dari keg­a­galan Inggris men­jadi tuan rumah Piala Dunia 2018.

Dalam lobi-lobi yang dila­ku­kan sebelum penentuan tuan rumah, Inggris ‘dijanjikan’ Blat­ter mendapat suara yang dibu­tuhkan. Namun, nyatanya malah Rusia yang ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia ke-21 itu.   [RM]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA