Sebab, melihat kondisi di lapangan menjadi penting karena dampak karhutla terhadap orang utan.
Terlebih, kondisi orang utan tidak selalu terlihat hanya dari ada atau tidaknya api di kawasan rehabilitasi.
Saat Gibran datang, BOSF pun mengajak untuk melihat langsung orang utan di area sekolah serta satwa yang membutuhkan penanganan menggunakan nebulizer.
“Kami berpikir, seeing is believing. Beliau melihat langsung teman-teman kami bekerja memperhatikan orang utan dan bagaimana kami merawat mereka walaupun ada asap,” kata Jamartin dalam keterangan resmi yang diterima redaksi di Jakarta pada Senin malam, 14 September 2026.
Dalam situasi ini, BOSF pun sempat membatasi jumlah orang yang dapat masuk ke area tersebut. Jamartin mengatakan protokol itu dihormati oleh rombongan Wapres.
“Dari apa yang beliau (Gibran) lihat dan dari pengalaman kami, beliau memberikan perhatian yang cukup besar terhadap satwa liar, tidak hanya orangutan,” jelasnya.
Berkaca dari peristiwa ini, Jamartin berharap pengalaman yang dilihat langsung Wapres tersebut dapat menjadi bagian dari upaya membangun penanganan karhutla yang lebih preventif.
BERITA TERKAIT: