Kegiatan ini mengangkat pengalaman perempuan di tengah perubahan sosial, ekonomi, dan teknologi yang berlangsung cepat dan membuat kehidupan semakin sulit diprediksi. Ketidakpastian tersebut menjadi semakin kompleks ketika perempuan juga berhadapan dengan beragam peran, tuntutan, dan ekspektasi sosial.
Tema tersebut mempertemukan peserta dari Yogyakarta, Jakarta, Kulon Progo, Pacitan, Karanganyar, dan sejumlah wilayah lainnya. Mereka mengikuti berbagai sesi untuk berbagi pengalaman, mengenali diri, dan saling menguatkan dalam menghadapi kondisi tersebut.
Bagi penggagas WSW sekaligus Pendiri YRKSA, Sekartaji Ayuwangi, ruang semacam ini penting agar perempuan dapat bertumbuh tanpa harus menjalani berbagai persoalan sendirian.
“Perempuan tidak harus menghadapi ketidakpastian sendirian. WSW menjadi ruang untuk belajar, mendengar, dan saling menguatkan,” ujar Sekartaji.
Dalam sesi lainnya, dosen Ilmu Komunikasi UPN Veteran Yogyakarta sekaligus Sekretaris YRKSA, Kurnia Arofah, membahas berbagai kondisi yang mewarnai kehidupan Perempuan di era ketidakpastian. Mulai dari banyaknya peran dan tuntutan, standar perbandingan, dorongan untuk terus menjadi lebih baik, hingga kehidupan orang lain yang terus hadir melalui media sosial.
“Kita tidak dapat membuat hidup menjadi pasti. Tapi pengalaman yang didukung dan direfleksikan dapat menjadi pengetahuan bersama, sebagai bekal menghadapi ketidakpastian” kata Kurnia.
Sementara itu, penulis dan penggiat pemberdayaan perempuan, Ariyanti Luhur Tri Setyarini, mengajak para perempuan kembali mengenali diri agar dapat memahami apa yang benar-benar dibutuhkan dalam menjalani kehidupannya. Perempuan perlu menguatkan diri terlebih dahulu untuk kemudian dapat hadir dan menguatkan perempuan lainnya.
Kegiatan juga dimeriahkan oleh Body Movement Specialist, Evi Nilakanti, yang mengajak peserta melakukan gerakan fisik ringan untuk membantu pelepasan ketegangan dan penguatan tubuh. Latihan difokuskan pada area tulang ekor dan panggul sebagai bagian dari upaya mengenali respons tubuh dan membangun kesadaran terhadap kondisi diri.
Sejak 2023, WSW telah menyelenggarakan lebih dari 15 kelas dan ruang belajar dengan tema pemulihan diri, kesehatan emosional, pengembangan diri, dan pemberdayaan perempuan. Berawal dari Yogyakarta, komunitas ini kemudian tumbuh ke Boyolali, Jakarta, dan berbagai wilayah lainnya.
WSW terus berkembang sebagai ruang bersama yang dirawat oleh relawan, fasilitator, narasumber, dan peserta dengan semangat dari perempuan, oleh perempuan, dan untuk perempuan.
BERITA TERKAIT: