Akibatnya, warga pun berbondong-bondong menyerbu supermarket, minimarket, hingga pedagang asongan yang menjual masker. Alhasil, masker laku keras hingga terjadi kelangkaan di sejumlah daerah, salah satunya di Kota Bogor.
Bukan cuma langka, harga masker kini melonjak gila-gilaan hingga mencapai lebih dari 100 persen.
Menanggapi hal tersebut, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Barat, Fetty Anggraenidini, mengimbau pedagang masker untuk tidak memanfaatkan situasi bencana dengan menaikkan harga secara tidak wajar.
Legislator dari Partai Golkar itu menilai, lonjakan harga masker yang melambung tinggi di pasaran sangat memberatkan masyarakat yang sedang membutuhkan perlindungan kesehatan.
Fetty menegaskan bahwa dalam situasi bencana, semangat sosial harus diutamakan melalui prinsip "warga jaga warga", bukannya dimanfaatkan untuk meraup keuntungan berlipat ganda.
"Kita mengimbau kepada para pedagang masker itu untuk tidak menaikkan harga secara gila-gilaan," kata Fetty di Bogor, Senin 7 September 2026.
Pengalaman lonjakan harga masker ini dirasakan langsung oleh Fetty saat berupaya membeli masker secara mandiri.
Ia mengaku sempat mendatangi empat apotek berbeda namun hasilnya nihil. Ketika beralih membeli secara daring (online), harga yang ditawarkan sudah melambung tinggi dari tarif normal.
"Saya pesan online yang KN95 itu Rp125.000. Gila, mahal banget. Padahal biasanya cuma Rp25.000," kata Fetty.
Fetty melihat fenomena ini lebih disebabkan oleh aksi para produsen dan penjual skala kecil yang ikut-ikutan menaikkan harga demi memanfaatkan momentum lonjakan permintaan.
"Mungkin mengambil momentum ya," kata Fetty, dikutip dari
RMOLJabar.
BERITA TERKAIT: