Daftar Fenomena Langit Agustus 2026, Gerhana Matahari Total hingga Hujan Meteor Perseid

 OLEH: <a href='https://rmol.id/about/tifani-5'>TIFANI</a>
OLEH: TIFANI
  • Jumat, 31 Juli 2026, 16:59 WIB
Daftar Fenomena Langit Agustus 2026, Gerhana Matahari Total hingga Hujan Meteor Perseid
Ilustrasi Daftar Fenomena Langit Agustus 2026 (Sumber: Gemini Generated Image)
Kecil Besar
rmol news logo Agustus 2026 akan menjadi bulan yang menarik bagi para pecinta astronomi. Sejumlah fenomena langit diprediksi menghiasi langit sepanjang bulan, mulai dari gerhana matahari total, hujan meteor Perseid, gerhana bulan sebagian, hingga bulan purnama Sturgeon Moon.

Fenomena yang paling dinantikan adalah Gerhana Matahari Total pada 12 Agustus 2026. Sayangnya, masyarakat Indonesia tidak dapat menyaksikan fenomena tersebut karena jalur gerhana tidak melintasi wilayah Tanah Air.

Meski begitu, masih ada sejumlah peristiwa astronomi lain yang bisa dinikmati selama Agustus 2026. Berikut daftar lengkap fenomena langit Agustus 2026 beserta jadwalnya.

Daftar Fenomena Langit Agustus 2026

1. Merkurius di Elongasi Barat Terjauh (2 Agustus 2026)

Fenomena pertama terjadi pada 2 Agustus 2026 ketika Merkurius mencapai elongasi barat terjauh dari Matahari. Kondisi ini menjadi waktu terbaik untuk mengamati planet terkecil di tata surya tersebut.

Merkurius dapat diamati di langit timur menjelang Matahari terbit. Posisi planet ini tampak lebih rendah dibandingkan Mars.

Pada saat elongasi, sekitar 39 persen permukaan Merkurius akan diterangi Matahari sehingga lebih mudah diamati, terutama menggunakan teleskop.

2. Gerhana Matahari Total (12 Agustus 2026)

Fenomena utama Agustus 2026 adalah Gerhana Matahari Total yang berlangsung pada 12 Agustus. Peristiwa ini terjadi ketika Bulan berada tepat di antara Bumi dan Matahari sehingga menutupi seluruh piringan Matahari bagi wilayah yang berada di jalur totalitas.

Berdasarkan Almanak BMKG 2026, jalur totalitas gerhana melintasi Greenland bagian timur, Islandia, wilayah utara Spanyol dan Portugal, hingga Rusia. Sementara itu, sebagian wilayah Eropa, Afrika, dan Amerika Utara masih dapat menyaksikan gerhana matahari sebagian.

Sayangnya, Indonesia tidak termasuk wilayah yang dapat menyaksikan Gerhana Matahari Total maupun gerhana matahari sebagian pada fenomena kali ini.

3. Puncak Hujan Meteor Perseid (12-13 Agustus 2026)

Pada malam 12 Agustus hingga dini hari 13 Agustus 2026, Hujan Meteor Perseid diperkirakan mencapai puncaknya. Berdasarkan 2026 Meteor Shower Calendar yang diterbitkan International Meteor Organization (IMO), Perseid memiliki Zenithal Hourly Rate (ZHR) hingga 100 meteor per jam dalam kondisi langit yang ideal.

Tahun ini menjadi waktu yang sangat baik untuk mengamati Perseid karena puncaknya bertepatan dengan fase bulan baru. Kondisi tersebut membuat langit lebih gelap sehingga cahaya bulan tidak mengganggu pengamatan.

Untuk menikmati hujan meteor ini, masyarakat tidak memerlukan teleskop. Cukup mencari lokasi yang minim polusi cahaya dan membiarkan mata beradaptasi dengan kegelapan selama sekitar 20 hingga 30 menit.

4. Gerhana Bulan Sebagian (27-28 Agustus 2026)

Fenomena berikutnya adalah Gerhana Bulan Sebagian yang berlangsung pada 27 hingga 28 Agustus 2026. Gerhana ini terjadi ketika hanya sebagian permukaan Bulan memasuki bayangan inti Bumi sehingga sebagian wajah Bulan tampak lebih gelap dibandingkan bagian lainnya.

Berdasarkan Kalender Gerhana Internasional, fenomena ini dapat diamati dari sejumlah wilayah di dunia. Sementara itu, BMKG menyebut belum dapat dipastikan seluruh fase gerhana dapat diamati dari Indonesia. 

Hal tersebut bergantung pada waktu terbit Bulan di masing-masing daerah serta kondisi cuaca saat pengamatan.

5. Bulan Purnama Sturgeon Moon (28 Agustus 2026)

Fenomena langit Agustus 2026 ditutup dengan Bulan Purnama Sturgeon Moon yang diprediksi terjadi pada 28 Agustus 2026 pukul 11.18 WIB. Nama Sturgeon Moon berasal dari tradisi masyarakat adat Amerika Utara yang mengaitkan bulan purnama Agustus dengan musim ikan sturgeon yang melimpah.

Selain Sturgeon Moon, purnama Agustus juga dikenal dengan beberapa nama lain, seperti Green Corn Moon, Grain Moon, dan Red Moon. Meskipun fase purnama mencapai puncaknya pada siang hari waktu Indonesia, Bulan tetap akan tampak bulat penuh saat terbit pada malam harinya. 

Momen ini menjadi waktu yang tepat untuk menikmati keindahan langit malam maupun mengabadikannya melalui fotografi.rmol news logo article
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
EDITOR: TIFANI

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA