7 Fenomena Astronomi Oktober 2026, Ada Dua Hujan Meteor

 OLEH: <a href='https://rmol.id/about/tifani-5'>TIFANI</a>
OLEH: TIFANI
  • Selasa, 29 September 2026, 16:05 WIB
7 Fenomena Astronomi Oktober 2026, Ada Dua Hujan Meteor
Ilustrasi Fenomena Astronomi Oktober 2026 (Sumber: Gemini Generated Image)
Kecil Besar
rmol news logo Beragam fenomena astronomi akan menghiasi langit sepanjang Oktober 2026. Sejumlah peristiwa langit menarik dapat diamati pada bulan ini, mulai dari Saturnus yang mencapai oposisi, hujan meteor Draconid dan Orionid, fase Bulan Baru, hingga Bulan Purnama yang dikenal sebagai Hunter's Moon.

Sebagian fenomena tersebut bahkan dapat diamati tanpa alat bantu, terutama dari lokasi dengan kondisi langit yang gelap dan minim polusi cahaya. Mengutip laman Time and Date, berikut sederet fenomena astronomi yang diprediksi terjadi sepanjang Oktober 2026.

1. Saturnus pada Titik Oposisi (4 Oktober 2026)

Saturnus akan mencapai titik oposisi pada 4 Oktober 2026. Oposisi terjadi ketika bumi berada di antara matahari dan Saturnus sehingga planet bercincin tersebut berada pada posisi berlawanan dengan matahari di langit.

Kondisi ini membuat Saturnus berada pada jarak relatif terdekat dengan bumi dan tampak lebih terang dibandingkan waktu lainnya sepanjang tahun. Saturnus juga dapat diamati hampir sepanjang malam, mulai dari sekitar matahari terbenam hingga menjelang terbit.

Fenomena oposisi menjadi salah satu waktu terbaik untuk mengamati Saturnus. Planet tersebut dapat terlihat sebagai titik terang dengan mata telanjang, sedangkan teleskop dapat digunakan untuk melihat bentuk cakram dan sistem cincinnya dengan lebih jelas.

2. Puncak Hujan Meteor Draconid (8-9 Oktober 2026)

Hujan meteor Draconid menjadi fenomena astronomi berikutnya yang dapat diamati pada Oktober 2026. Hujan meteor ini aktif pada awal Oktober dan mencapai puncaknya sekitar malam 8 hingga 9 Oktober.

Draconid berasal dari debu yang ditinggalkan oleh komet 21P/Giacobini-Zinner. Fenomena ini dikenal berbeda dari hujan meteor pada umumnya karena waktu pengamatan terbaiknya justru terjadi pada malam awal.

Kondisi bulan yang mendekati fase Bulan Baru membuat langit relatif gelap saat puncak Draconid berlangsung, sehingga dapat membantu pengamatan meteor, terutama dari lokasi yang minim polusi cahaya. Meteor Draconid akan tampak seolah-olah berasal dari arah rasi bintang Draco, meskipun meteor sebenarnya dapat melintas di berbagai bagian langit.

3. Bulan Baru (10 Oktober 2026)

Fase bulan Baru akan terjadi pada 10 Oktober 2026. Pada fase ini, bulan berada hampir segaris dengan matahari dan sisi bulan yang menghadap bumi tidak mendapat penerangan langsung sehingga sulit atau tidak terlihat di langit malam.

Bulan baru juga menjadi salah satu waktu terbaik untuk mengamati objek langit yang redup. Minimnya cahaya bulan membuat galaksi, gugus bintang, dan objek langit lainnya lebih mudah diamati, terutama dari lokasi dengan tingkat polusi cahaya rendah.

4. Merkurius pada Elongasi Timur Terjauh (12 Oktober 2026)

Merkurius akan mencapai elongasi timur terjauh pada 12 Oktober 2026. Pada kondisi ini, Merkurius berada pada jarak sudut terjauh dari matahari jika dilihat dari bumi.

Fenomena elongasi timur menjadi kesempatan untuk mencari Merkurius di langit setelah matahari terbenam. Planet tersebut akan tampak di sekitar arah barat dan dapat diamati pada langit senja, meskipun waktu dan ketinggiannya di atas cakrawala akan bergantung pada lokasi pengamatan.

5. Puncak Hujan Meteor Orionid (21-22 Oktober 2026)

Hujan meteor Orionid menjadi fenomena langit berikutnya yang menghiasi Oktober 2026. Hujan meteor ini aktif sekitar 2 Oktober hingga 7 November dan mencapai puncaknya pada 21-22 Oktober.

Orionid berasal dari partikel debu yang ditinggalkan oleh Komet Halley. Meteor-meteor tersebut dikenal memiliki kecepatan tinggi dan dapat meninggalkan jejak terang di langit.

Pada kondisi ideal, Orionid dapat menghasilkan hingga sekitar 20 meteor per jam. Waktu pengamatan terbaik biasanya setelah tengah malam hingga menjelang pagi dari lokasi yang jauh dari cahaya perkotaan.

Namun, kondisi Bulan pada puncak Orionid 2026 akan cukup terang sehingga cahaya bulan berpotensi mengurangi jumlah meteor yang dapat terlihat. Karena itu, lokasi dengan langit gelap tetap menjadi faktor penting untuk mendapatkan hasil pengamatan yang lebih baik.

6. Hunter's Moon (26 Oktober 2026)

Bulan purnama akan terjadi pada 26 Oktober 2026. Bulan purnama Oktober secara tradisional dikenal dengan nama Hunter's Moon atau bulan pemburu.

Nama tersebut berkaitan dengan tradisi masyarakat di Amerika Utara yang mengaitkan Bulan purnama ini dengan waktu berburu menjelang musim dingin. Dalam sejumlah tradisi, Bulan purnama Oktober juga memiliki nama lain, termasuk Travel Moon dan Blood Moon.

Hunter's Moon akan tampak penuh dan terang di langit malam. Saat berada dekat cakrawala ketika terbit atau terbenam, bulan juga dapat terlihat berwarna kekuningan hingga oranye akibat pengaruh atmosfer.

7. Bulan Dekat Pleiades (28 Oktober 2026)

Pada 28 Oktober 2026, Bulan akan tampak berdekatan dengan gugusan bintang Pleiades di langit malam. Kedua objek langit tersebut hanya berjarak sekitar 0°56', sehingga fenomena ini cukup menarik untuk diamati.

Pleiades yang memiliki magnitudo sekitar 1,2 dapat ditemukan di konstelasi Taurus. Fenomena kedekatan Bulan dan Pleiades tersebut dapat diamati menggunakan mata telanjang maupun teropong, selama kondisi langit cukup cerah dan tidak tertutup awan.rmol news logo article
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
EDITOR: TIFANI

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA