Langkah ini diambil setelah ia resmi dikembalikan kepada orang tuanya Albert Hutagalung dan Ribkha Pakpahan untuk kedua kalinya pada Desember 2025.
Setelah sempat melakukan beberapa perlawanan terhadap keputusan sekolah tersebut, tak lama berselang EJH terpaksa harus belajar seorang diri di kelasnya sebagai akibat dari permintaan para orang tua siswa kepada pihak sekolah yang tidak ingin anak mereka sekelas dengan EJH.
"Pindahnya EJH terduga pelaku bullying dari sekolah, menjadi titik terang dan harapan baru bagi civitas sekolah dan para orang tua murid," kata seorang wali murid kepada wartawan, Senin 20 Juli 2026.
Bahkan, dia mengatakan, seorang siswa yang sebelumnya menjadi korban EJH yang sempat pindah ke sekolah lain, kini berencana kembali lagi masuk atau pindah ke PIS setelah mengetahui EJH telah resmi pindah sekolah.
Keluarnya EJH dari sekolah internasional tersebut, dikonfirmasi oleh Kepala Sekolah Mahadewi A. Puspitaningtyas saat Pertemuan Orang Tua Siswa pada hari Sabtu, 18 Juli 2026, yang mengatakan EJH telah resmi keluar dari PIS melalui proses mutasi.
Sebelumnya, polemik ini memicu perhatian luas publik setelah para wali murid melakukan aksi protes damai dengan mengirimkan puluhan karangan bunga ke sekolah dan unjuk rasa damai dari para aktivis peduli anak di depan kantor Kemendikdasmen, Senayan, Jakarta.
Mereka mendesak pihak sekolah dan pemerintah untuk mengambil tindakan tegas atas dugaan perundungan fisik dan psikis yang dialami belasan korban.
BERITA TERKAIT: