Saat Represi Berganti Wajah, Buku 'Bredel' Mengajak Publik Melawan Lupa

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/sarah-alifia-suryadi-1'>SARAH ALIFIA SURYADI</a>
LAPORAN: SARAH ALIFIA SURYADI
  • Minggu, 12 Juli 2026, 01:01 WIB
Saat Represi Berganti Wajah, Buku 'Bredel' Mengajak Publik Melawan Lupa
Pameran Bredel di Fatmawati, Jakarta Selatan, Sabtu, 11 Juli 2026. (RMOL/Sarah Alifia Suryadi)
rmol news logo Represi tak lagi selalu hadir dalam bentuk pembredelan surat kabar atau pelarangan buku seperti pada era Orde Baru. 

Berangkat dari situasi tersebut, Yayasan Riset Visual MataWaktu bersama Pewarta Foto Indonesia (PFI) menghadirkan buku dan pameran arsip 'Bredel'. 

Buku ini disusun oleh Didi Kwartanada, Goenawan Mohamad, Ignatius Haryanto, JJ Rizal, dan Oscar Motuloh. Bagi mereka, mempelajari sejarah bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan membaca pola yang terus muncul dalam bentuk berbeda.

Represi Berganti Bentuk, Kekuasaan Tetap Sama

Asisten Kurator MataWaktu, Gunawan Widjaja, mengatakan Bredel memetakan perjalanan kebebasan berekspresi sejak masa kolonial Belanda, Orde Lama, Orde Baru, Reformasi, hingga era media sosial.

Menurutnya, pergantian rezim tidak otomatis mengubah cara kekuasaan membatasi ruang berekspresi.

"Kekuasaannya tetap sama, tapi metode pembungkamannya berbeda," kata Gunawan kepada RMOL di Jakarta Selatan, Sabtu malam, 11 Juli 2026.

Jika dulu pembatasan dilakukan melalui pembredelan media, kini bentuknya bergeser menjadi pemblokiran akun media sosial, hingga pembatasan fitur digital.

Ia menilai gejala itu semakin terasa dalam beberapa tahun terakhir. Karena itu, generasi muda perlu memahami bahwa sejarah selalu berulang.

"Anak-anak muda harus paham bagaimana sejarah itu berulang dan bagaimana kita menentukan posisi kita ke depan."

Dari Pers yang Dibredel hingga Akun TikTok yang Diblokir

Melalui lini masa, Bredel menghubungkan berbagai peristiwa pembatasan ekspresi lintas generasi, mulai dari pembredelan Tempo, pelarangan karya Pramoedya Ananta Toer, sensor musik dan seni, penghapusan mural, hingga berbagai bentuk pembungkaman di ruang digital.

Peristiwa-peristiwa mutakhir juga dimasukkan, termasuk pemblokiran permanen akun TikTok resmi RMOL.ID setelah mengunggah liputan demonstrasi Agustus 2025, gangguan fitur siaran langsung di sejumlah platform, hingga praktik self-censorship media.

Menurut Gunawan, seluruh peristiwa itu dicatat bukan untuk menghakimi, melainkan menjadi pijakan awal memahami perkembangan bentuk represi.

Arsip Bukan Nostalgia, Melainkan Titik Awal Penelitian

Gunawan menegaskan Bredel tidak dimaksudkan menjadi ensiklopedia lengkap sejarah represi. Dengan rentang waktu yang panjang, mustahil seluruh peristiwa dirangkum dalam satu buku.

Karena itu, penyusun memilih menjadikannya sebagai peta awal bagi pembaca yang ingin menelusuri sejarah lebih jauh.

"Ini lebih kayak summary awal. Untuk memicu keingintahuan sehingga orang punya mulainya dari mana."

Merekam Perlawanan, Bukan Sekadar Sensor

Bagi Gunawan, yang terpenting dari sejarah pembungkaman bukanlah sensornya, melainkan bagaimana masyarakat melawannya.

Di setiap periode, selalu muncul bentuk-bentuk perlawanan baru, mulai dari jurnalis yang tetap berkarya, seniman yang terus mencipta, mural di ruang publik, hingga berbagai ekspresi anak muda.

"Yang dicatat bukan sensornya, karena sensor itu akan selalu ada. Tapi perlawanannya." lanjutnya.

Menurutnya, ingatan terhadap perlawanan itulah yang dapat mencegah masyarakat mengulangi kesalahan yang sama.

Dari Poster Perlawanan Menuju Arsip Kolektif

Bredel menjadi kelanjutan proyek MataWaktu setelah pameran Vox Populi Fox They. Jika sebelumnya berfokus pada poster karya anak muda, tahun ini pendekatan bergeser ke arsip visual.

Pengunjung disuguhi foto jurnalistik, kliping media, ilustrasi, mural, sampul buku, dokumen, hingga lini masa yang seluruhnya disusun berdasarkan sumber arsip.

"Kita fokus pada arsip. Semua foto dan timeline ada sumbernya. Bukan sekadar ingatan." jelas Gunawan.

Menurutnya, buku masih memiliki peran penting karena mampu merangkai fragmen-fragmen itu menjadi satu narasi utuh.

"Tujuan kami bukan supaya orang berhenti di buku ini. Silakan gali lebih dalam lagi supaya kita tidak buta dan tidak jatuh ke lubang sejarah yang sama." tegasnya.

Bredel Bisa Dinikmati Umum

Pameran Bredel menjadi bagian dari upaya Yayasan Riset Visual MataWaktu dan Pewarta Foto Indonesia (PFI) merawat ingatan kolektif tentang kebebasan berekspresi di Indonesia. 

Menghadirkan ratusan arsip visual, foto jurnalistik, kliping media, ilustrasi, poster, dokumen, dan lini masa dari era kolonial hingga media sosial, pameran ini berlangsung hingga 31 Juli 2026 di Tabir MataWaktu, ITC Fatmawati Blok F16, Jalan RS Fatmawati Raya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dan terbuka untuk umum. 

Menurut Gunawan, pameran ini bukan untuk mengajak publik bernostalgia, melainkan menunjukkan bahwa pembungkaman selalu hadir di setiap zaman dengan cara yang berbeda.rmol news logo article


Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA