Acara yang sejatinya menjadi penutup manis perjalanan tiga tahun itu berubah menjadi momen yang tak akan mudah dilupakan. Para siswa dan guru yang sedang berfoto bersama terjatuh ketika konstruksi panggung tak mampu menahan beban.
Jerit kesakitan dan teriakan panik menggantikan sorak bahagia. Momen pada Jumat, 13 Februari 2026 itu yang semula diwarnai tawa dan kebahagiaan mendadak berubah menjadi kepanikan.
Menurut keterangan sejumlah narasumber di lokasi, sebelum runtuh panggung sempat bergoyang, lalu tiba-tiba ambruk dan menimpa para siswa yang berada di atas maupun di sekitarnya. Kepanikan pun tak terhindarkan. Teriakan terdengar bersahutan saat para siswa berusaha menyelamatkan diri.
Sejumlah siswa ada yang terjepit rangka besi dan material panggung serta kursi yang disusun diambil dari kelas. Sementara lainnya mengalami luka akibat tertimpa serta terjatuh dari ketinggian.
Panitia acara, dibantu warga sekitar segera melakukan evakuasi darurat secara manual untuk menyelamatkan para korban sebelum akhirnya petugas medis datang.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, ambruknya panggung diduga disebabkan oleh kelebihan beban (overload) serta konstruksi yang tidak memenuhi standar keselamatan.
Rangka besi disebut tidak terpasang secara permanen, bahkan beberapa sambungan hanya diikat menggunakan tali rafia, sehingga tidak mampu menopang beban saat digunakan.
Akibat kejadian tersebut, belasan siswa dilaporkan mengalami luka berat dan ringan. Cedera yang dialami korban di antaranya patah tulang, tulang remuk, pergeseran tulang, hingga terjepit material panggung. Bahkan, dua korban dilaporkan mengalami patah tulang yang berdampak serius.
Seluruh korban langsung dilarikan ke Rumah Sakit Hermina Bandar Lampung untuk mendapatkan penanganan medis. Sejumlah korban harus menjalani perawatan intensif, sementara lainnya masih berada dalam observasi tim medis.
Kepala SMKN 4 Kota Bandar Lampung, Dewi Ningsih, membenarkan peristiwa robohnya panggung saat acara perpisahan tersebut. Pihak sekolah bertanggung jawab terhadap penanganan medis dan biaya para korban di rumah sakit.
Meski demikian, menurutnya kegiatan perpisahan tersebut merupakan inisiatif para siswa.
"Benar, kejadian itu merupakan musibah. Dua murid mengalami patah tulang dan sudah ditangani pengobatannya. Kami dari pihak sekolah hanya mendukung, karena kegiatan perpisahan ini merupakan keinginan siswa," ujar Dewi Ningsih dikutip
Kantor BeritaRMOLLampung, Selasa, 17 Februari 2026.
Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung, Thomas Americo, mengatakan pihak sekolah bertanggung jawab penuh atas biaya pengobatan siswa yang mengalami kecelakaan di lingkungan sekolah.
"Kami dari dinas pendidikan bertanggung jawab penuh. Orang tua siswa pun memaklumi bahwa ini merupakan musibah," pungkas Thomas.
BERITA TERKAIT: