Menteri Haji dan Umrah Irfan Yusuf menjelaskan bahwa kebijakan ini bertujuan agar jamaah yang baru tiba dari perjalanan panjang di Arab Saudi bisa segera beristirahat dan berkumpul kembali dengan keluarga tanpa harus tertahan lama di asrama haji.
Fokus Layanan di BandaraJika selama ini jamaah haji harus menjalani rangkaian acara pelepasan atau penyambutan formal di Asrama Haji setelah mendarat, tahun ini alurnya akan diubah. Semua proses pemeriksaan dokumen dan kesehatan akan diselesaikan langsung di bandara.
"Untuk Embarkasi Jogja, sebetulnya ketika jamaah pulang dari Saudi tidak perlu lagi banyak kegiatan seremonial. Kita fokuskan agar pemeriksaan-pemeriksaan yang diperlukan bisa dilakukan langsung di bandara. Setelah pemeriksaan kesehatan dan administrasi selesai, jamaah bisa langsung kembali ke daerah masing-masing," ujar Menteri Haji.
Menjadi Model untuk Daerah LainLangkah ini diambil untuk merespons kebutuhan jamaah akan pelayanan yang lebih taktis dan manusiawi. Kondisi fisik jamaah yang lelah setelah menempuh perjalanan udara belasan jam menjadi pertimbangan utama penghapusan acara-acara formal yang dianggap kurang mendesak.
Pemerintah akan memantau secara ketat efektivitas skema di Yogyakarta ini. Jika terbukti efektif memangkas waktu tunggu jamaah, skema serupa akan diterapkan secara nasional di masa mendatang.
"Jika skema di Embarkasi Jogja ini berhasil, maka akan menjadi percontohan bagi daerah-daerah lain yang memiliki kebutuhan serupa," tambahnya.
Relaksasi di Daerah Terdampak BencanaSelain penyederhanaan di embarkasi, Menteri Haji juga memberikan perhatian khusus pada daerah-daerah yang sedang terdampak bencana. Meski ada pemberian relaksasi dalam beberapa prosedur, hasil capaian pemenuhan kuota dan pelunasan di wilayah tersebut tetap menunjukkan tren positif.
Diharapkan dengan adanya efisiensi di embarkasi, beban psikis dan fisik jamaah, terutama yang berasal dari daerah pelosok atau terdampak bencana, dapat berkurang secara drastis saat kembali ke tanah air.
BERITA TERKAIT: