Staf Khusus Kepala Staf Kepresidenan, Timothy Ivan Triyono mengatakan, rencana tersebut masih dalam tahap pembahasan, termasuk terkait format penyampaiannya.
“Tentu rencana beliau memberikan pernyataan kepada masyarakat ini masih didiskusikan formatnya seperti apa, lalu
template-nya seperti apa, masih dalam diskusi,” kata Ivan dikutip dari siaran Garuda TV, Kamis, 12 Maret 2026.
Ivan menjelaskan istilah taklimat lazim digunakan dalam dunia militer yang berarti penyampaian arahan atau pandangan umum. Dalam konteks ini, presiden sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan ingin menyampaikan pandangannya mengenai situasi nasional maupun global kepada masyarakat.
Menurut Ivan, salah satu perhatian presiden adalah maraknya disinformasi di media massa dan media sosial. Banyak potongan pernyataan Presiden atau pejabat negara yang dipelintir menjadi klip berita palsu sehingga menyesatkan publik.
Melalui taklimat tersebut, presiden juga akan menjelaskan sejumlah isu aktual, antara lain terkait Board of Peace (BoP), perjanjian dagang Indonesia dengan Amerika Serikat, capaian program Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga situasi energi di tengah konflik di Timur Tengah.
“Tentu poin-poin itulah yang akan disampaikan Bapak Presiden,” ujar Ivan.
Ia menambahkan, format taklimat masih disiapkan tim presiden. Penyampaiannya dapat berupa monolog presiden, dialog dengan pemimpin redaksi media, diskusi bersama podcaster, hingga melibatkan
influencer.
Ivan menegaskan taklimat tersebut juga menjadi upaya presiden menjawab berbagai kritik sekaligus menangkal DFK atau disinformasi, fitnah, dan kebencian yang beredar di ruang publik.
Ia mencontohkan sejumlah meme dan potongan video yang menyebut cadangan energi Indonesia hanya cukup untuk 20 hari sehingga masyarakat akan “naik unta”.
“Ini semua sesuatu yang sangat menyesatkan,” tegas Ivan.
Menurutnya, pemerintah saat ini berada pada jalur yang tepat untuk mencapai swasembada solar pada 2026. Selain itu, cadangan energi nasional dinilai cukup, sementara kondisi pangan juga aman.
Indonesia saat ini bahkan mengalami surplus beras sekitar 17 juta ton. Selain beras, komoditas seperti jagung dan cabai rawit juga disebut telah mencapai swasembada.
Taklimat tersebut juga dimaksudkan untuk menenangkan masyarakat di tengah situasi global yang tidak menentu, termasuk konflik di Timur Tengah.
“Presiden ingin masyarakat fokus merayakan Idulfitri dengan khidmat dan rasa kekeluargaan,” kata Ivan.
BERITA TERKAIT: