Pertunjukan yang digelar pada 3-7 Desember 2025 itu dipesembahkan untuk memperingati Hari Disabilitas Internasional sekaligus menegaskan bahwa semua orang berhak menempati ruang yang setara, baik di panggung seni maupun kehidupan sehari-hari.
Produser Pascal Meliala menekankan, musikal ini bukan sekadar hiburan. Dengan perpaduan bahasa isyarat, musik, gerak, dan teater, penonton diajak merasakan inklusivitas sebagai pengalaman emosional yang nyata.
“Teman-teman tuli memiliki panggung ini bersama kita, jadi tak ada pemisahan,” ujar Pascal, dalam keterangannya yang dikutip redaksi, Jumat 12 Desember 2025.
Pascal menilai musikal ‘JEMARI’ bukan pertunjukan seni biasa, tetapi juga membawa pesan bahwa semua orang berhak mempunyai ruang yang sama di panggung seni maupun di kehidupan.
Musikal ‘JEMARI’ menandai debut kolaborasi dunia Dengar dan Tuli, sekaligus menjadi tonggak penting bagi ekosistem seni inklusif.
“Ruang yang sama, ruang yang setara, tempat setiap orang—Dengar atau Tuli—bisa berdiri, bermimpi, dan bersuara,” tambah Pascal.
Lanjut Pascal, tingginya antusiasme pengunjung karena pertunjukkan ini menampilkan kekompakan, perpaduan bahasa isyarat, musik, gerak, dan teater meninggalkan kesan emosional mendalam karena mampu membawa penonton masuk ke ruang inklusivitas sebagai suatu pengalaman yang bisa dirasakan.
Sementara itu, salah satu pembina Musikal ‘JEMARI’ AKBP Dr. Muhammad Ardila Amry mengatakan bila setiap talenta dapat bersinar meskipun dianggap memiliki kekurangan.
“Dengan akses, lingkungan, dan dukungan yang tepat, setiap talenta bisa bersinar. Mari jadikan keberadaan kita lebih adil dan berarti bagi sesama,” ucap perwira Polisi berpangkat dua melati tersebut.
BERITA TERKAIT: