Citarum Meluap, 22.105 KK Di Kabupaten Bandung Terdampak Banjir

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/ruslan-tambak-1'>RUSLAN TAMBAK</a>
LAPORAN: RUSLAN TAMBAK
  • Jumat, 08 Maret 2019, 02:17 WIB
Citarum Meluap, 22.105 KK Di Kabupaten Bandung Terdampak Banjir
Foto:Humas BNPB
rmol news logo . Banjir bukan hal yang baru bagi masyarakat sekitar bantaran Sungai Citarum di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Terlebih lagi di daerah Kecamatan Baleendah dan Majalaya karena dalam setahun warga mengalami banjir bisa sekitar 10 kali.
Hujan berintensitas sedang hingga tinggi yang turun sejak Rabu (6/3) telah menyebabkan banjir di 12 desa/kelurahan pada 10 kecamatan di Kabupaten Bandung pada Rabu hingga sekarang.

Daerah yang banjir ada di Kecamatan Dayeuhkolot, Baleendah, Bojongsoang, Rancaekek, Cileunyi, Majalaya, Banjaran, Cicalengka, Kutawaringin dan Ibun.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, banjir disebabkan luapan Sungai Citarum dan drainase yang tidak mampu mengalirkan aliran permukaan. Tinggi banjir antara 40 cm hingga 280 cm.

Sebanyak 22.105 kepala keluarga (KK) terdampak banjir dengan sebaran: Kecamatan Baleendah 5.271 KK, Kecamatan Dayeuhkolot 3.005 KK, Kecamatan Bojongsoang 2.370 KK, Kecamatan Rancaekek 3.383 KK, Kecamatan Cileunyi 3.373 KK.

Selanjutnya, Kecamatan Majalaya 1.929 KK, Kecamatan Banjaran 2.414 KK, Kecamatan Cicalengka 85 KK, Kecamatan Kutawaringin 25 KK dan Kecamatan Ibun 250 KK.

Meskipun banjir melanda cukup luas dan rumah warga terendam banjir, namun hanya ada 90 KK atau 283 orang yang mengungsi.

Sebaran pengungsi sebagai berikut, Kecamatan Dayeuhkolot 5 KK/17 jiwa, Kecamatan Baleendah 68 KK/226 jiwa dan Kecamatan Bojongsoang 17 KK/40 jiwa," sebut Sutopo, Kamis malam (7/3).

TRC BPBD Kabupaten Bandung bersama TNI, Polri, Basarnas, PMI, Tagana, SKPD dan relawan telah melakukan evakuasi korban. Bantuan disalurkan kepada pengungsi.

Sutopo menjelaskan, banjir terus berulang di daerah ini memerlukan penanganan DAS Citarum secara komprehensif. Daerah Baleendah dan sekitarnya merupakan permukiman dan industri yang padat penduduknya. Kondisi topografi cekung dengan dasar Sungai Citarum dangkal karena sedimentasi.

"Seringnya banjir melanda permukiman menyebabkan masyarakat sudah beradaptasi dengan kondisi alam yang ada. Masyarakat sudah menyiapkan perahu dan mengetahui kemana mereka harus mengungsi. Jarang ada korban jiwa meskipun mereka sering dilanda banjir," tutupnya. rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA