Penyu mati ini ditemukan oleh pemancing yang tengah mencari ikan. Kondisinya dikabarkan sangat mengenaskan karena dipenuhi oleh plastik. Bahkan dari lubang pembuangan (dubur) penyu itu pun keluar plastik.
Bersama para aktivis dari Wild Water Indonesia (WWI) Kulonprogo, penyu ini kemudian dikuburkan pada keesokan harinya, Senin (10/12).
Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) yang menggandeng Fakultas Biologi UGM ingin mencari tahu penyebab kematian penyu yang telah dikubur itu.
Para peneliti dari Biologi UGM lalu mendatangi kubur penyu di Congot. Mereka membongkar kubur, mengangkat bangkainya, memeriksa secara detil bagian yang masih tersisa, dan memastikan apakah ada plastik dalam bangkai itu.
Setelah tahap pemeriksaan berlangsung hampir 2,5 jam dan para peneliti tidak menemukan plastik pada tubuh penyu.
"Kami bongkar sampai perutnya tapi tidak ditemukan plastik sama sekali. Saya malah temukan ada ikan buntal di dalam perut penyu tersebut. Habis makan ikan buntal sepertinya," tutur dosen Fakultas Biologi UGM, Donan Satria Yudha dalam keterangannya.
Jika berdasarkan foto yang beredar di media sosial, menurut Donan, sepintas penyu yang ditemukan mati di Pantai Congot ini seperti mengeluarkan plastik dari lubang pembuangannya. Tetapi setelah dilakukan pengecekan, kata Donan, benda yang diduga plastik itu ternyata organ dalam penyu yang keluar dari lubang pembuangan.
"Saya pegang, saya raba itu bukan plastik. Dari hasil rabaan memang bukan plastik tapi organ dalam yang keluar. Karena kalau mati kan melembung dan pecah," terang Donan.
Donan menyebut jika kematian penyu tersebut bukanlah disebabkan oleh plastik seperti yang banyak disampaikan sejumlah LSM dan penggiat antikantong plastik.
Meskipun demikian, menurut dia, penyebab kematian penyu tersebut harus dicari tahu lebih lanjut.
"Kemungkinan besar memang tidak mati karena plastik. Karena tidak kita temukan plastik dari penyu itu," kata Donan
.[wid]
BERITA TERKAIT: