Hal ini bisa dipantau dari postingan warganet di sejumlah media sosial (medsos) baik Facebook maupun WhatsApp. Dari berbagai postingan tersebut, terlihat gambar amplop warna putih yang isinya uang kertas dan foto paslon peserta Pilkada Kudus.
Dikutip dari
Kantor Berita RMOLJateng, postingan 'angpao' dari paslon peserta Pilkada Kudus itu mendapat respon beragam dari warganet. Ada yang menyambut gembira, mengecam dan menghakimi namun ada juga yang mengajak warganet agar tak mudah percaya dengan materi postingan tersebut.
Beberapa diantaranya seperti di bawah ini. "Hancur sudah kota Kudus ini bila seorang pemimpin di kota ini selalu menghargai suara rakyat dengan uang," tulis akun Kustianto Selasa (26/6).
"Inikah pilkada yang berintegritas? Pembohong besar klu sdh jelas ada bukti kayak gini gak ditindaklanjuti," tulis akun Syifa Mumtaza.
"Kapan lagi kita ngerjain orang yang merampok uang rakyat. Ini saatnya kita balas dikasih uang terima aja. Tapi jangan dicoblos," tulis akun Kus Wondo.
"Cuma memperingatkan saja bagi sedulur2 jangan sampai terkecoh dg foto. Stiker gampang dibuat. Yg jelas ikuti apa kata hati," tulis akun Budi Andromeda.
Sejumlah akun berharap penyelenggara pemilu, khususnya jajaran Panwas Kabupaten Kudus agar segera bertindak terkait persoalan ini. Mereka mendesak agar lembaga pengawas pemilu itu mengambil tindakan tegas, terkait praktek politik uang yang menurunkan kualitas demokrasi ini.
Duta Pilkada Kudus 2018, Arofatul Ulya berharap masyarakat semakin sadar dengan bahaya politik uang. Menurutnya praktek politik uang sama saja dengan merendahkan harga diri.
"Apakah kita mau, harga diri kita disejajarkan dengan uang tak seberapa itu?" kata mahasiswi Universitas Muria Kudus (UMK) ini.
Sementara itu, Ketua Panwas Kabupaten Kudus Moh Wahibul Minan, belum bisa dikonfirmasi terkait hal ini. Saat dihubungi, nomor telepo yang bersangkutan aktif namun tak ada jawaban. Saat dikirimi pesan elektronik juga tak ada respon dari Minan.
[fiq]
BERITA TERKAIT: