Pada penutupan Sesi I, IHSG tercatat naik 236,13 poin atau 3,39 persen ke posisi 7.207,157, bahkan sempat menyentuh kenaikan hingga 3 persen.
Pengamat pasar modal, Reydi Octa, menjelaskan bahwa lonjakan IHSG dipicu oleh meredanya tekanan global, terutama dari faktor geopolitik.
Menurutnya, pasar merespons positif kabar adanya kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang sebelumnya membebani sentimen investor.
“Pasar mulai merespons meredanya tekanan global sementara, seperti geopolitik AS yang melunak pasca kesepakatan gencatan sementara dengan Iran,” jelas Reydi kepada RMOL.
Selain faktor geopolitik, penurunan harga minyak mentah dunia turut memberikan dorongan signifikan bagi pasar.
Harga minyak mentah Brent berjangka Juni terpantau turun 12,6 persen menjadi 91,92 Dolar AS per barel. Ini menandai pertama kalinya sejak 23 Maret Brent jatuh di bawah 92 Dolar AS.
Sementara itu, minyak mentah WTI berjangka Mei turun 16,6 persen menjadi 94,10 Dolar AS.
Di saat yang sama, penetapan status secondary emerging market oleh FTSE Russell ikut meningkatkan daya tarik pasar keuangan Indonesia di mata investor asing.
Selain itu, stabilisasi imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury juga disebut menjadi sinyal positif karena menurunkan tekanan arus keluar modal dari pasar negara berkembang.
“Pasar juga merespon turun ya harga minyak mentah dunia, penetapan status secondary emerging market dari FTSE dan stabilisasi yield US Treasury dan tidak adanya sentimen negatif baru dari eksternal,” tambahnya.
Kombinasi faktor tersebut, kata Reydi mendorong investor melihat valuasi saham yang sebelumnya terkoreksi sebagai peluang menarik untuk kembali masuk ke pasar
“Ini membuat investor melihat valuasi sudah cukup menarik untuk masuk kembali,” tandasnya.
Ia pun memperkirakan IHSG hari ini bergerak ke rentang 7.150-7.250.
BERITA TERKAIT: