"Banyak ditemukan ditengah masyarakat seakan-akan pendidikan menjadi tanggungjawab penuh pemerintah melalui sekolah," kata Sukiman, Kamis (22/3).
Akibatnya banyak orangtua yang kurang peduli dengan masalah pendidikan anak. Mereka seolah hanya memiliki tanggungjawab memenuhi kebutuhan anak terkait sekolah. Konten dan pelaksanaan dari pendidikan itu sendiri dibebankan sepenuhnya kepada pihak sekolah.
Sukiman juga menyesalkan sikap masyarakat yang semakin tidak peduli dengan pendidikan anak-anak di sekitar mereka. Apa yang dilakukan anak, meski itu tidak baik, masyarakat enggan untuk meluruskan, enggan untuk menegur, dengan berbagai alasan dan sebab.
Direktorat Pendidikan Keluarga Kemendikbud yang lahir tiga tahun lalu, diakui Sukiman memiliki tanggungjawab besar untuk meningkatkan peran keluarga dan lingkungan terhadap proses pendidikan anak.
"Kami berupaya mengadakan kegiatan-kegiatan yang sifatnya meningkatkan peran keluarga dalam pendidikan anak. Banyak program kita lakukan seperti Gerakan Nasional Orangtua Membacakan Buku atau Gernas Baku. Juga berbagai edukasi terkait pengasuhan anak balita, pengasuhan dan perawatan anak pada 1000 hari pertama kehidupan, perawatan dan pengasuhan anak usia 13-24 tahun. Intinya bagaimana orangtua melibatkan diri secara aktif dalam pendidikan anak," tambahnya.
Bagi Sukiman, anak-anak membutuhkan sentuhan tidak hanya dari sekolah, tetapi juga orangtua dan lingkungan masyarakat. Hubungan yang mesra antara sekolah, orangtua atau keluarga dan masyarakat harus dibangun lebih baik lagi sehingga proses pendidikan mampu melahirkan anak-anak dengan karakter yang baik.
[rry]
BERITA TERKAIT: