Firman menekankan pentingnya kehadiran negara dalam memberikan pendidikan nilai kebangsaan yang bersumber dari Pancasila.
“Pancasila harus dijadikan alat analisis, bukan sekadar hafalan. Harus dibedah dalam kasus nyata, supaya relevan dengan kehidupan sehari-hari,” kata Firman dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Minggu, 12 April 2026.
Politikus senior Golkar itu menyebut ada kegelisahan nyata dari kalangan orang tua dan pendidik terhadap generasi yang secara akademik unggul, namun dinilai mulai kehilangan pijakan nilai kebangsaan.
“Ini keresahan yang nyata. Anak-anak kita pintar, sekolah sampai luar negeri, tapi akar budayanya mulai copot. Mereka tidak lagi memahami gotong royong, bahkan tidak tahu kenapa Pancasila lahir sebagai dasar negara,” jelasnya.
Ia mengkritik metode pembelajaran sejarah yang dinilai terlalu dangkal dan hanya menekankan kronologi tanpa makna.
“Sejarah kita diajarkan seperti hafalan. Padahal yang penting itu bukan tanggalnya, tapi kenapa para pendiri bangsa memilih Pancasila, bukan ideologi lain. Di situ ada perjuangan, ada kompromi, ada darah,” tegasnya.
Lebih jauh, Firman menilai tantangan ideologi saat ini semakin berat karena harus berhadapan dengan algoritma digital yang lebih menarik bagi generasi muda.
“Pancasila itu butuh perenungan, sementara media sosial memberi kepuasan instan setiap detik. Ini pertarungan narasi yang tidak seimbang, dan negara belum benar-benar hadir di ruang batin generasi muda,” jelas dia.
Firman menutup pernyataannya dengan nada yang lebih reflektif, menekankan bahwa persoalan generasi muda bukanlah soal kurangnya nasionalisme, melainkan kegagalan sistem dalam menghadirkan ruang perjumpaan antara nilai global dan jati diri kebangsaan.
“Generasi muda kita bukan kurang Indonesia. Mereka hanya belum dijemput. Kita terlalu sibuk menuntut mereka memahami bangsa ini, tapi lupa menyediakan jembatan agar mereka bisa terhubung dengan identitasnya sendiri,” tandasnya.
BERITA TERKAIT: