“Pembentukan ini menjadi simbol konsolidasi gerakan pemuda-pemudi desa yang berorientasi pada semangat membangun Indonesia dari desa, terutama di wilayah kepulauan yang sebagian besar masuk kategori daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T),” kata Ketua Umum DPN SPEDA Fadli Rumakefing dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Minggu malam, 12 April 2026.
Ia menegaskan bahwa selain Jakarta, pemuda pemudi desa di Kalimantan, Maluku dan daerah lain di Indonesia memiliki potensi besar sebagai penggerak utama pembangunan berbasis lokal. Dengan kondisi geografis yang menantang, justru lahir semangat kemandirian dan solidaritas yang kuat di kalangan generasi muda desa.
“Karena itu, kehadiran DPW dan DPC diharapkan menjadi wadah untuk memperkuat peran tersebut, sekaligus mendorong lahirnya inovasi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat desa secara konkret,” jelasnya.
Lebih jauh, Fadli menekankan fokus utama gerakan ini tidak hanya pada penguatan organisasi, tetapi juga pada pengembangan ekonomi desa dan digitalisasi sebagai kunci kemajuan.
“Pemuda pemudi desa didorong untuk mengelola potensi lokal seperti perikanan, pertanian, dan pariwisata desa berbasis komunitas, sekaligus memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas akses pasar dan informasi,” ungkapnya.
Digitalisasi desa diyakini dapat membuka peluang baru, mempercepat pelayanan publik, serta meningkatkan daya saing produk desa di tingkat nasional bahkan global.
Melalui pembentukan struktur ini, Solidaritas Pemuda Pemudi Desa menegaskan komitmennya untuk hadir sebagai mitra strategis dalam pembangunan desa di Indonesia.
“Dengan semangat gotong royong, kolaborasi, dan inovasi, pemuda pemudi desa diharapkan mampu menjadi ujung tombak perubahan, menggerakkan ekonomi lokal, serta menjadikan desa-desa di wilayah 3T sebagai pusat pertumbuhan baru bagi Indonesia yang lebih inklusif dan berkelanjutan,” tutup Fadli.
BERITA TERKAIT: