Begitu pemaparan Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian Kota Bogor, Muhammad Gozali kepada peserta workshop pelaksana kegiatan Pengembangan Pangan Pokok Lokal (P3L) yang datang dari berbagai kabupaten di Indonesia.
Gozali menjelaskan omset Rp1 juta per hari sudah didapat Komunitas Singkong Bogor (Kasibo) dari Kampung Ciranjang, Desa Pamoy, Kabupaten Bogor. Mereka mengolah singkong menjadi makanan tradisional dengan konsep kekinian.
"Hanya dengan modal sepeda motor bisa menghasilkan hingga Rp 1 juta per hari. Itu untuk combro saja ya. Getuk juga sama," kata Gozali yang disambut tepuk tangan para peserta workshop, Rabu (21/3).
Samsinar, Ketua KWT Nunukan mengaku sangat terbantu dengan workshop semacam ini. Ia mengaku baru mengetahui bila singkong yang paling bagus dan enak dikonsumsi saat berumur enam bulan hingga satu tahun.
"Saya baru tahu kalau singkong juga tidak boleh dipanen lebih dari setahun. Selain itu olahan singkong saja bisa sampai 100 jenis itu juga luar biasa. Ibu-ibu di Nunukan harus bisa mengembangkan hal yang sama," ujarnya.
Ia mengakui bila sumber bahan pangan paling banyak ditemui di Nunukan adalah jagung. Meski demikian, workshop yang diadakan oleh Badan Ketahanan Pangan hari ini menurutnya jadi modal penting pengembangan KWT Nunukan.
"Kalau tidak ada workshop kami (KWT) tidak tahu bagaimana mengenalkan makanan tradisional yang kekinian ke masyarakat. Selain itu kalau berhasil maka anggota KWT akan menikmati hasilnya juga," katanya.
Kata Samsinar KWT Nunukan menerima bantuan dana pengembangan pengolahan pangan lokal sebanyak Rp200 juta dari Kementerian Pertanian. Ia yakin dengan dana tersebut UMKM Nunukan akan berkembang.
"Kami yakin bantuan dan pelatihan yang diterima nanti akan membawa hasil," tutup Samsinar.
[nes]
BERITA TERKAIT: