Pertama, manajemen konstruksi sebenarnya merupakan lintas bidang dan lintas kementerian. Untuk itu, setiap pemangku kepentingan harus mengoptimalisasi diri dengan menjalankan tugasnya sesuai dengan standar yang ada. Misalkan setiap pekerja diberikan asuransi jiwa.
"Asuransi konstruksi itu memang kepada jiwa. Bagaimana yang lain, kita optimalkan dong, baru setelah itu kita
reward and punishment," katanya dalam diskusi bertajuk 'Proyek Infrastruktur: Antara Percepatan dan Pertaruhan' di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (24/2).
Kedua, lanjut dia, setiap pemangku kepentingan sedari awal harus memperhitungkan soal manajemen resiko.
"Bicara mengenai manajemen resiko bicara mengenai timbulnya itu resiko internal atau eksternal. Dari pengalihannya ini bisa dialihkan atau tidak. Dari penyebabnya ini spekulatif atau tidak, atau ini murni," imbuhnya.
Yang ketiga, lanjut Manlian, percepatan pembangunan yang dicanangkan pemerintah memang sebuah pertaruhan.
"Bahasa saya percepatan itu adalah bagaimana mengoptimalkan, bukan buru-buru, kemudian bicara pertaruhan itu bicara dampak. Jadi politik atau apalah itu namanya, itu dampak," katanya.
Keempat, diakuinya bahwa akhir-akhir ini memang sering terjadi kecelakaan kontruksi. Namun demikian, harusnya, kecelakaan konstruksi tersebut justru dijadikan sebagai pemacu bagi para pemangku kepentingan untuk melakukan perbaikan sehingga kejadian serupa tidak berulang.
"Lebih baik dijadikan sebagai tantangan. Saya malah mendukung dan mendorong pemerintah untuk maju terus. Justru, jangan-jangan dengan kejadian ini pemerintah kita ini bisa lebih baik ke depan," pungkas Manlian.
[rus]
BERITA TERKAIT: